Suarapanturanews.com — Masa liburan sering kali dianggap sebagai waktu anak untuk beristirahat total dari rutinitas sekolah. Namun di balik itu, liburan justru menjadi momen emas bagi orang tua untuk membentuk karakter anak secara lebih intens dan alami.
Tanpa tekanan tugas akademik, anak memiliki ruang lebih luas untuk belajar nilai-nilai kehidupan melalui kebiasaan sehari-hari di rumah. Pembentukan karakter tidak harus dilakukan dengan cara formal, melainkan melalui interaksi sederhana yang konsisten dan penuh keteladanan.
Cara pertama yang paling mendasar adalah membiasakan anak bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri. Saat liburan, anak kerap bangun lebih siang dan cenderung longgar dalam rutinitas.
Di sinilah peran orang tua untuk tetap menanamkan tanggung jawab, seperti merapikan tempat tidur, menjaga kebersihan kamar, dan mengatur waktu bermain. Kebiasaan kecil ini melatih anak memahami bahwa kebebasan selalu disertai tanggung jawab, sekaligus membentuk disiplin dari dalam diri.
Cara kedua adalah melibatkan anak dalam aktivitas rumah tangga. Liburan merupakan waktu yang tepat untuk mengajak anak membantu pekerjaan rumah sesuai usianya, seperti menyapu, mencuci piring, atau menyiapkan makanan sederhana.
Kegiatan ini tidak hanya mengajarkan keterampilan hidup, tetapi juga menumbuhkan rasa peduli, kerja sama, dan penghargaan terhadap usaha orang lain. Anak belajar bahwa setiap anggota keluarga memiliki peran dan kontribusi.
Cara ketiga adalah membangun karakter melalui komunikasi yang hangat dan terbuka. Saat liburan, orang tua memiliki lebih banyak waktu untuk berbincang dengan anak tanpa terburu-buru.
Gunakan momen ini untuk mendengarkan cerita anak, memahami perasaannya, dan berdiskusi tentang nilai-nilai seperti kejujuran, empati, serta sikap saling menghormati. Percakapan ringan yang dilakukan secara rutin akan memperkuat ikatan emosional sekaligus membentuk kecerdasan sosial dan emosional anak.
Cara keempat adalah membatasi sekaligus mengarahkan penggunaan gawai. Liburan sering membuat waktu layar anak meningkat drastis. Alih-alih melarang sepenuhnya, orang tua dapat mengatur durasi dan memilihkan konten yang mendidik.
Selain itu, tawarkan alternatif kegiatan seperti membaca buku, bermain bersama keluarga, berkebun, atau melakukan permainan tradisional. Dengan begitu, anak belajar mengelola waktu, mengembangkan kreativitas, dan tidak bergantung sepenuhnya pada teknologi.
Cara kelima adalah memberikan teladan yang konsisten. Anak adalah peniru ulung, dan perilaku orang tua menjadi cermin utama bagi mereka.
Saat liburan di rumah, sikap sabar, jujur, disiplin, serta cara orang tua menyelesaikan masalah akan direkam dengan baik oleh anak. Ketika orang tua mampu menjadi contoh nyata, nilai-nilai karakter akan tertanam lebih kuat dibandingkan nasihat lisan semata.
Membentuk karakter anak saat liburan tidak membutuhkan metode yang rumit. Kunci utamanya terletak pada konsistensi, keteladanan, dan kehadiran orang tua secara utuh.
Liburan bukan sekadar waktu bersantai, tetapi juga kesempatan berharga untuk menanamkan nilai-nilai kehidupan yang akan melekat hingga anak dewasa. Dengan pendekatan yang tepat, rumah dapat menjadi sekolah karakter terbaik bagi anak.
Sumber Berita: nnc
























