Mengenal KH Idris Kamali: Ulama Asal Cirebon, Guru Para Kiai dan Murid KH Hasyim Asy’ari

- Jurnalis

Rabu, 19 Agustus 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Suarapanturanews.com — Bila memasuki kawasan Kempek, Cirebon, Jawa Barat, sekitar setengah kilometer perjalanan akan dijumpai sebuah pekuburan di sisi kiri jalan sebelum memasuki kawasan Makam Kempek. Di tempat itulah terdapat makam seorang waliyyullah yang mungkin belum banyak dikenal masyarakat, yakni KH Idris Kamali.

Sosok ulama yang dikenal berperawakan kecil itu justru memiliki keilmuan dan akhlak yang mendapat pengakuan dari para ulama besar. Salah satunya adalah Sayyid Alwi Al Maliki dari Makkah.

KH Idris Kamali merupakan salah satu kader ulama yang lahir dari tradisi keilmuan Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama (NU). Ia dikenal sebagai mubaligh yang tekun mengamalkan ilmu, gigih belajar, dan sangat menghormati para gurunya.

Bidang keilmuannya pun luas. KH Idris Kamali dikenal mendalami ilmu hadis, fikih, tasawuf, hingga gramatika bahasa Arab.

Nama lengkapnya KH Idris bin Kamali bin Abdul Jalil Assyarbuni. Ia merupakan anak pertama pasangan KH Kamali bin Kiai Abdul Jalil dan Nyai Saudah. Idris lahir pada 1887 ketika kedua orang tuanya berada di Tanah Suci Makkah al-Mukarramah.

Ayahnya, Kiai Kamali, merupakan salah satu ulama Nusantara yang memiliki jejaring keilmuan kuat di Haramain. Ulama asal Cirebon tersebut dikenal menguasai ilmu qiraat dan falak. Selain menuntut ilmu, Kiai Kamali juga mengajar di Masjidil Haram.

Sementara kakeknya, Kiai Abdul Jalil, juga merupakan ulama besar. Meski berasal dari Pekalongan, Jawa Tengah, kiprahnya di Cirebon cukup besar, termasuk dalam mendirikan pesantren di wilayah tersebut.

Jika melihat konteks zamannya, KH Idris Kamali hidup sezaman dengan sejumlah ulama Nusantara yang memiliki pengaruh besar di Tanah Suci, seperti Syekh Nawawi al-Bantani (1813-1897), Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi (1860-1916), dan Syekh Muhammad Mahfuzh at-Tarmasi (1842-1920).

Muridnya, Prof KH Tholhah Hasan, bahkan pernah menyebut keilmuan KH Idris Kamali setara dengan Syekh Muhammad Yasin al-Fadani (1916-1990), ulama keturunan Minangkabau yang lahir di Makkah. Keduanya dinilai sama-sama memiliki kepakaran dalam sanad hadis.

Meski lahir di Makkah, perjalanan keilmuan KH Idris Kamali justru banyak ditempa di Tanah Air. Kedua orang tuanya kembali ke Indonesia pada 1908. Setibanya di Cirebon, Idris mendapatkan pendidikan agama langsung dari ayahnya.

Perjalanan menuntut ilmunya kemudian berlanjut ke Pondok Pesantren APIK Kaliwungu, Kendal. Pesantren tersebut diasuh KH Irfan Musa, sahabat Kiai Kamali ketika masih menimba ilmu di Tanah Suci.

Setelah beberapa tahun menjadi santri, Idris muda dipercaya menjadi lurah pondok pertama pada 1919. Kepercayaan itu diberikan karena Kiai Irfan melihat tanda-tanda kealiman dalam diri santrinya.

Di Kaliwungu, Idris mempelajari dan menghafal Alquran. Ia juga memperdalam ilmu hadis, khususnya mengenai sanad, selama sekitar tiga tahun.

Dari Kaliwungu, perjalanan keilmuannya berlanjut ke Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. Di pesantren inilah Idris untuk pertama kalinya belajar secara langsung kepada Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari.

Tebuireng menjadi fase penting dalam perjalanan keilmuan KH Idris Kamali. Di bawah bimbingan Mbah Hasyim, ia semakin mendalami ilmu hadis. Pada masa itu, KH Hasyim Asy’ari dikenal luas sebagai salah satu pakar hadis di Tanah Jawa.

Kegemarannya membaca juga semakin berkembang. Koleksi kitab yang dimilikinya bahkan kemudian tersimpan di perpustakaan Pondok Pesantren Tebuireng dan menjadi salah satu rujukan dalam bahtsul masail di lingkungan Nahdliyin.

Di bawah bimbingan Mbah Hasyim, Idris mempelajari sekaligus menghafal berbagai kitab beserta syarahnya. Di antaranya kitab fikih Al-Ghayah wa-t-Taqrib dan kitab nahwu Mutammimah.

Sebelum melanjutkan perjalanan keilmuan ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji sekaligus belajar, KH Idris Kamali sempat mengajar di Tebuireng. Baginya, mengajar merupakan bentuk pengabdian sekaligus penghormatan kepada gurunya, Mbah Hasyim.

Ketekunan beribadah juga menjadi bagian penting dari kesehariannya. Sejak kecil di Cirebon, ia terbiasa menghafal Alquran 30 juz. Ia juga dikenal tidak lalai menjalankan ibadah wajib maupun sunah.

Riyadhah atau latihan spiritual dilakukannya secara rutin pada malam hari. Pada siang hari, puasa sunah juga menjadi amalan yang dijaga. Ketekunan tersebut membuat Mbah Hasyim memberikan perhatian khusus kepadanya.

Pada suatu kesempatan, Mbah Hasyim memanggil Idris dan menunjuknya sebagai asisten atau badal untuk mengajar sejumlah kitab di Tebuireng. Sejak saat itu, kiprahnya sebagai pendidik semakin terlihat. Para santri pun menjadikannya sebagai salah satu teladan dalam menuntut ilmu.

Penghargaan Mbah Hasyim kepada Idris ternyata berlanjut ke hubungan keluarga. Pada akhir 1920-an, KH Idris Kamali menikah dengan Nyai Azzah, putri keempat KH Hasyim Asy’ari. Dari pernikahan tersebut lahir seorang putra bernama Abdul Haq pada 1929.

Setelah Nyai Azzah meninggal dunia dalam usia relatif muda, KH Idris memilih tidak menikah lagi. Ia kemudian mencurahkan kasih sayangnya kepada Abdul Haq, putra semata wayangnya.

Dalam mengajar di Tebuireng, KH Idris lebih memilih masjid sebagai tempat berkumpul bersama para santri dibandingkan madrasah. Ia ingin mendapatkan dua keutamaan sekaligus, yakni beriktikaf dan mengajarkan ilmu.

Metode sorogan menjadi salah satu cara utama yang digunakannya. Santri membaca kitab langsung di hadapan Kiai Idris, kemudian setiap kesalahan dikoreksi secara langsung.

Metode tersebut dinilai efektif karena membantu santri semakin terampil membaca kitab-kitab klasik. Selain mengajarkan kemampuan membaca kitab, KH Idris juga membimbing para santri untuk membiasakan berbagai amalan sunah, seperti puasa Senin-Kamis dan shalat malam.

Ada pula kebiasaan unik yang dikenang dari KH Idris selama berada di Tebuireng. Ia senang memelihara hewan ternak seperti sapi dan kambing. Namun, kegemarannya itu bukan semata untuk mencari keuntungan, melainkan agar lebih mudah bersedekah.

Susu hasil perahan sapi kerap diberikan kepada para dewan guru di lingkungan Tebuireng. Ketika cucu Mbah Hasyim, Gus Dur, hendak menikah, KH Idris juga memberikan beberapa ekor kambing untuk keperluan walimah.

Cerita tentang keberkahan KH Idris pun berkembang di lingkungan Tebuireng. Masyarakat bahkan disebut membiarkan hewan ternaknya memakan tanaman milik mereka.

Aktivitas dakwah KH Idris tidak hanya berlangsung di Tebuireng. Pada dekade 1940-an, ia juga mengajar di sejumlah pesantren lain di Jawa, termasuk Pesantren Kaliwungu, Kendal, dan Pesantren Kempek, Cirebon.

Dalam menjalankan dakwah, ia juga turut menyuarakan semangat perjuangan melawan penjajahan. Untuk menghindari pengawasan polisi intel Belanda, KH Idris kerap menggunakan rute berbeda ketika berangkat dan pulang mengajar.

KH Idris menjadi pengajar tetap di Tebuireng pada 1953 hingga 1973. Sesuai wasiat Mbah Hasyim, ia tetap mempertahankan tradisi salaf, termasuk pengajian dengan metode sorogan.

Pada 1981, ulama yang dikenal tawaduk itu kembali mendapat kesempatan menuntaskan rihlah keilmuannya di Haramain. Setelah itu, ia kembali mengabdikan ilmunya di Cirebon, tempat asal keluarganya.

KH Idris Kamali terus mengajar dan berdakwah hingga wafat pada Juli 1984. Ia meninggal dunia dalam usia lebih dari 90 tahun. Jenazahnya dimakamkan di kompleks pemakaman keluarga di kawasan Pondok Pesantren Kempek, Cirebon.

Kesaksian tentang kealiman KH Idris Kamali datang dari salah seorang muridnya, Prof KH Tholhah Hasan. Dalam sebuah tulisan, ia menyandingkan ketokohan KH Idris dengan KH Adlan Aly, yang juga merupakan murid langsung Mbah Hasyim Asy’ari.

“Di Tebuireng itu, ada dua penghuni surga: Kiai Idris Kamali dan Kiai Adlan Aly. Beliau berdua sama-sama alim, wara, zuhud,” tutur menteri agama RI periode 1999-2001 itu.

Ketokohan KH Idris juga dikenang Prof KH Said Aqil Siroj. Ketua Umum PBNU tersebut pernah belajar kitab kepada Kiai Idris ketika berada di Makkah. Hubungan keduanya bahkan semakin dekat karena ibu kandung KH Said merupakan sepupu KH Idris, yakni Afifah binti Harun bin Abdul Jalil.

Warisan terbesar KH Idris Kamali bukan hanya kitab dan pengajaran, tetapi juga keteladanan dalam mencetak kader ulama. Prinsip tersebut sejalan dengan hadis Nabi Muhammad SAW yang menyebut ulama sebagai pewaris para nabi.

Dalam konteks Indonesia, pesantren menjadi salah satu ruang penting untuk menyiapkan generasi penerus dakwah. Pondok Pesantren Tebuireng yang didirikan KH Hasyim Asy’ari menjadi salah satu lembaga yang kuat dalam tradisi tersebut.

KH Hasyim menerapkan pendidikan yang disiplin sekaligus penuh hikmah. Pola itu kemudian melahirkan ulama yang tidak hanya kuat dalam ilmu agama, tetapi juga memiliki ketangguhan dan keteladanan dalam mengamalkan ilmunya.

KH Idris Kamali menjadi salah satu murid yang meneruskan tradisi tersebut. Selama lebih dari dua dekade mengajar kitab-kitab klasik di Tebuireng, ia terus menekankan pentingnya regenerasi ulama dan dai.

Pada suatu masa, KH Idris melihat adanya perubahan pola pendidikan di Tebuireng seiring berkembangnya sistem madrasah berjenjang. Ia kemudian memilih memusatkan perhatian kepada sekitar 20 santri yang dinilai memiliki potensi untuk menjadi ulama.

Para santri pilihan itu dibimbing secara intensif. Mereka harus memenuhi sejumlah persyaratan, antara lain tinggal di pesantren setidaknya selama tiga tahun, memiliki kesungguhan belajar, serta menunjukkan prestasi yang baik.

Mereka juga dituntut menguasai sejumlah kitab dan pelajaran dasar serta patuh terhadap arahan kiai dan ustaz. Kedisiplinan dalam menjalankan shalat berjamaah lima waktu di masjid menjadi salah satu bagian penting dari pembinaan.

Dari kaderisasi tersebut kemudian lahir sejumlah tokoh besar. Di antaranya Prof KH Tholhah Hasan, Prof KH Ali Mustofa Yaqub, KH Ma’ruf Amin, Prof Djamaluddin Miri, KH Abdul Hayyie, KH Mustofa Mukhtar, dan Prof KH Said Aqil Siroj.

Dikutip dari situs resmi Pondok Pesantren Tebuireng, para murid KH Idris tersebut kemudian memiliki spesialisasi keilmuan masing-masing. KH Ma’ruf Amin, misalnya, dikenal meneruskan tradisi keilmuan fikih yang dipelajarinya dari Kiai Idris. Sementara KH Ali Musthafa Ya’qub meneruskan kepakaran sang guru dalam bidang hadis.

Jejak panjang KH Idris Kamali menunjukkan bahwa seorang ulama tidak hanya dikenang karena keluasan ilmu, tetapi juga karena cara mengamalkan dan mewariskannya. Dari Tebuireng hingga Kempek Cirebon, keteladanan dan tradisi keilmuan yang ditanamkannya terus menjadi bagian dari perjalanan pesantren dan kaderisasi ulama di Indonesia.

Sumber Berita: N²C

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel suarapanturanews.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Warga Desa Buaran Mangga Gelar Ngaji Yasinan Rutinitas Malam Jum’at, Holiludin: Dengan Membaca Surat Yasin Dan Tahlil Semoga Kita Dapat Keberkahan
Ratusan Jamaah Hadiri Malam Tujuh Hari Almarhumah Nur Fajriah Binti Parhani, Istri Dewan TB Udi Juhdi di Pagelaran
Haul ke-39 Abuya KH. Muhyiddin, Ketua PAC GP Ansor Sepatan Tegaskan Komitmen Kawal Ulama dan Rawat Tradisi Aswaja
Kepala Desa Banyuasih dan Jajaran Pemerintah Desa Ucapkan Selamat Idul Adha 1447 H, Serukan Semangat Berkurban dan Kebersamaan
Pemerintah Kecamatan Kemiri Mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Adha 1447 H
Ucapkan Selamat Idul Adha 1447 Hijriah, Camat Sukadiri: Momen Pererat Kerukunan
Camat Sepatan dan Jajaran Pemerintah Kecamatan Ucapkan Selamat Idul Adha 1447 H, Serukan Semangat Berkurban dan Kebersamaan
Kepala Desa Pakualam Bersama Jajanan Pemerintahan Desa Pakualam Mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Adha 1447 H
Berita ini 6 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 19 Agustus 2026 - 10:19

Mengenal KH Idris Kamali: Ulama Asal Cirebon, Guru Para Kiai dan Murid KH Hasyim Asy’ari

Kamis, 2 Juli 2026 - 13:49

Warga Desa Buaran Mangga Gelar Ngaji Yasinan Rutinitas Malam Jum’at, Holiludin: Dengan Membaca Surat Yasin Dan Tahlil Semoga Kita Dapat Keberkahan

Senin, 29 Juni 2026 - 06:28

Ratusan Jamaah Hadiri Malam Tujuh Hari Almarhumah Nur Fajriah Binti Parhani, Istri Dewan TB Udi Juhdi di Pagelaran

Sabtu, 20 Juni 2026 - 16:19

Haul ke-39 Abuya KH. Muhyiddin, Ketua PAC GP Ansor Sepatan Tegaskan Komitmen Kawal Ulama dan Rawat Tradisi Aswaja

Senin, 25 Mei 2026 - 04:15

Kepala Desa Banyuasih dan Jajaran Pemerintah Desa Ucapkan Selamat Idul Adha 1447 H, Serukan Semangat Berkurban dan Kebersamaan

Berita Terbaru

error: Hak Cipta Suarapanturanews.com