Ratusan Jamaah Hadiri Malam Tujuh Hari Almarhumah Nur Fajriah Binti Parhani, Istri Dewan TB Udi Juhdi di Pagelaran

- Jurnalis

Senin, 29 Juni 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Suarapanturanews.com, BANTEN – Suasana duka yang dipenuhi kehangatan persaudaraan dan nilai-nilai religius menyelimuti kediaman anggota DPRD Kabupaten Pandeglang, TB Udi Juhdi, S.E., di Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Pandeglang, Banten, saat digelarnya malam tujuh hari wafatnya almarhumah Nur Fajriah binti Parhani, istri tercinta beliau. Ratusan jamaah dari berbagai desa di Kecamatan Pagelaran dan sejumlah wilayah lainnya hadir untuk mengikuti rangkaian tahlil, dzikir, pembacaan doa, serta memberikan dukungan moril kepada keluarga yang tengah berduka.

Acara malam tujuh hari tersebut berlangsung dalam suasana penuh khidmat dan menjadi momentum kebersamaan yang sarat makna. Selain sebagai bentuk penghormatan dan doa bagi almarhumah, kegiatan tersebut juga menjadi wujud nyata kuatnya rasa empati dan solidaritas sosial yang masih tumbuh di tengah masyarakat Kabupaten Pandeglang.

Sejak usai melaksanakan salat Isya, para jamaah mulai berdatangan ke kediaman keluarga besar TB Udi Juhdi. Mereka datang secara bergelombang, terdiri dari tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, aparatur pemerintahan, kerabat, sahabat, dan masyarakat umum yang mengenal almarhumah maupun keluarga besar TB Udi Juhdi.

Halaman rumah dan area sekitar kediaman dipenuhi para jamaah yang datang dengan satu tujuan, yakni memanjatkan doa dan memberikan dukungan moral kepada keluarga yang ditinggalkan. Meskipun suasana diselimuti duka, kebersamaan yang terjalin di antara para tamu mencerminkan betapa eratnya ikatan sosial dan persaudaraan di tengah masyarakat.

Lantunan ayat suci Al-Qur’an, bacaan tahlil, dan dzikir yang dipimpin para tokoh agama menggema di seluruh lokasi acara. Para jamaah tampak khusyuk mengikuti setiap rangkaian doa. Sebagian menundukkan kepala dengan penuh penghayatan, sementara yang lainnya tampak mengangkat kedua tangan seraya memohon kepada Allah SWT agar almarhumah diberikan ampunan, diterima segala amal ibadahnya, serta mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya.

Suasana haru semakin terasa ketika doa bersama dipanjatkan. Hening seketika menyelimuti lokasi acara. Tidak sedikit jamaah yang tampak meneteskan air mata dan larut dalam perenungan, mengingat bahwa setiap kehidupan pada akhirnya akan kembali kepada Sang Pencipta.

Dalam sambutannya, TB Udi Juhdi, S.E., menyampaikan rasa terima kasih yang tulus kepada seluruh jamaah yang telah meluangkan waktu untuk hadir dan mendoakan almarhumah. Dengan suara yang bergetar dan sesekali terhenti menahan haru, ia mengaku sangat tersentuh atas perhatian dan kepedulian masyarakat kepada dirinya dan keluarga.

“Saya atas nama pribadi dan keluarga mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh jamaah yang telah hadir dan mendoakan almarhumah istri saya. Kehadiran bapak dan ibu semua memberikan kekuatan dan penghiburan yang luar biasa bagi keluarga kami. Semoga segala doa dan kebaikan yang diberikan dibalas oleh Allah SWT dengan pahala yang berlipat ganda,” ujar TB Udi Juhdi.

Ia mengungkapkan bahwa kehilangan sosok istri tercinta merupakan ujian yang sangat berat dalam kehidupannya. Namun, dukungan yang terus mengalir dari berbagai kalangan masyarakat membuat dirinya dan keluarga merasa tidak sendiri dalam menghadapi masa-masa penuh kesedihan tersebut.

Lebih lanjut, TB Udi Juhdi juga memohon doa dan keikhlasan dari seluruh jamaah agar memaafkan segala kekhilafan almarhumah selama hidupnya.

“Kami sekeluarga memohon maaf apabila almarhumah semasa hidup pernah melakukan kesalahan, baik yang disengaja maupun tidak disengaja. Kami mohon keikhlasan bapak dan ibu semua untuk memaafkan beliau dan bersama-sama mendoakan agar almarhumah mendapatkan rahmat, ampunan, serta tempat terbaik di sisi Allah SWT,” lanjutnya.

Ucapan tersebut disambut dengan suasana hening dan penuh haru. Para jamaah serentak mengamini doa yang dipanjatkan. Beberapa di antaranya terlihat mengusap air mata, menunjukkan rasa kehilangan atas kepergian almarhumah.

Di mata masyarakat, almarhumah Nur Fajriah binti Parhani dikenal sebagai sosok perempuan yang sederhana, ramah, santun, dan memiliki kepedulian tinggi terhadap lingkungan sekitar. Kepribadiannya yang hangat membuat almarhumah mudah diterima di berbagai kalangan.

Salah seorang tokoh masyarakat yang hadir mengungkapkan bahwa almarhumah merupakan pribadi yang senantiasa menjaga silaturahmi dan tidak pernah membeda-bedakan orang dalam bergaul.

“Almarhumah adalah sosok yang baik dan rendah hati. Beliau selalu menyapa dengan ramah dan peduli terhadap sesama. Kami merasa sangat kehilangan. Kehadiran ratusan jamaah malam ini menjadi bukti bahwa almarhumah meninggalkan kenangan dan kesan baik di hati banyak orang,” ungkapnya.

Menurutnya, tradisi malam tujuh hari bukan sekadar kegiatan seremonial semata, melainkan menjadi sarana untuk memperkuat tali silaturahmi, memperbanyak doa, dan mengingatkan setiap manusia bahwa kehidupan di dunia hanyalah sementara.

Para tokoh agama yang hadir juga mengajak seluruh jamaah untuk mengambil hikmah dari peristiwa tersebut. Mereka mengingatkan pentingnya memperbanyak amal saleh, menjaga hubungan baik dengan sesama manusia, serta memanfaatkan setiap kesempatan hidup untuk berbuat kebaikan.

“Kematian adalah pelajaran bagi setiap insan. Harta, jabatan, dan segala yang dimiliki di dunia tidak akan dibawa ketika kembali kepada Allah SWT. Yang akan menjadi penerang adalah amal ibadah, ketulusan, dan jejak kebaikan yang ditinggalkan selama hidup,” ujar salah seorang tokoh agama dalam tausiyahnya.

Pesan tersebut mengajak seluruh jamaah untuk senantiasa meningkatkan kualitas ibadah dan memperbaiki hubungan dengan sesama, karena setiap manusia pada waktunya akan dipanggil menghadap Sang Pencipta.

Rangkaian acara malam tujuh hari berlangsung dengan tertib, aman, dan penuh kekhusyukan hingga larut malam. Setelah doa bersama selesai dilaksanakan, para jamaah melanjutkan silaturahmi dengan keluarga besar TB Udi Juhdi, menyampaikan ucapan belasungkawa, serta memberikan doa agar keluarga yang ditinggalkan senantiasa diberikan kekuatan, ketabahan, kesabaran, dan keikhlasan dalam menghadapi cobaan.

Kebersamaan yang tercipta pada malam tersebut menjadi gambaran nyata bahwa nilai gotong royong, persaudaraan, dan kepedulian sosial masih sangat kuat di tengah masyarakat Kabupaten Pandeglang. Di tengah suasana duka, ratusan jamaah hadir bukan hanya untuk mendoakan almarhumah, tetapi juga untuk menguatkan hati keluarga yang ditinggalkan.

Malam tujuh hari wafatnya almarhumah Nur Fajriah binti Parhani pun ditutup dengan doa bersama dan harapan agar seluruh doa yang dipanjatkan menjadi wasilah kebaikan bagi almarhumah serta menjadi amal ibadah bagi seluruh jamaah yang hadir.

“Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Semoga almarhumah Nur Fajriah binti Parhani husnul khatimah, diampuni segala dosanya, diterima seluruh amal ibadahnya, dilapangkan alam kuburnya, serta ditempatkan di tempat terbaik di sisi Allah SWT. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan kesabaran, ketabahan, dan keikhlasan. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamiin’.

Penulis : Dedi Supandi kaperwil Banten

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel suarapanturanews.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

DKM Nurul Falah dan IRMALA Berbagi dengan Anak Yatim “Berbagi Kebahagiaan, Menebar Kebaikan”
Tebar Kepedulian di Bulan Muharram, SPPG Pandeglang Pagelaran , pagelaran 04 Santuni Puluhan Anak Yatim
Berbagi Kebahagiaan, Kades Mekar Kondang Menangis Di rumah Saat Ratusan Yatim Dan Janda Tua Berdoa
Mengapa Bulan Muharram Disebut Hari Raya Yatim? Ini Makna dan Keutamaannya dalam Islam
Haul ke-39 Abuya KH. Muhyiddin, Ketua PAC GP Ansor Sepatan Tegaskan Komitmen Kawal Ulama dan Rawat Tradisi Aswaja
Semangat Berkurban Meningkat, Masjid Jami’ An-Nur dan Rumah Qur’an Desa Gintung Salurkan 1.200 Bungkus Daging Qurban
Kumpulan ucapan Selamat Idul Adha 2026 berisi Doa terbaik, Harapan, dan kata-kata Menyentuh Hati
Kenapa Dianjurkan Tidak Makan sebelum Salat Iduladha? Ini Penjelasannya
Berita ini 33 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 29 Juni 2026 - 06:28

Ratusan Jamaah Hadiri Malam Tujuh Hari Almarhumah Nur Fajriah Binti Parhani, Istri Dewan TB Udi Juhdi di Pagelaran

Sabtu, 27 Juni 2026 - 11:24

DKM Nurul Falah dan IRMALA Berbagi dengan Anak Yatim “Berbagi Kebahagiaan, Menebar Kebaikan”

Kamis, 25 Juni 2026 - 11:03

Tebar Kepedulian di Bulan Muharram, SPPG Pandeglang Pagelaran , pagelaran 04 Santuni Puluhan Anak Yatim

Kamis, 25 Juni 2026 - 10:56

Berbagi Kebahagiaan, Kades Mekar Kondang Menangis Di rumah Saat Ratusan Yatim Dan Janda Tua Berdoa

Rabu, 24 Juni 2026 - 13:18

Mengapa Bulan Muharram Disebut Hari Raya Yatim? Ini Makna dan Keutamaannya dalam Islam

Berita Terbaru

error: Hak Cipta Suarapanturanews.com