Suarapanturanews.com — Asap tipis mengepul dari wajan seng berkarat di pinggir gang becek sebuah pasar kota kecamatan. Minyak kelapa sawit curah yang sudah menghitam legam itu bergolak lambat, berbuih malas, memanggang butir-butir onde-onde sebesar bola pingpong. Seorang bapak berkaus kutang compang-camping mengaduknya dengan sodet kayu yang ujungnya sudah arang. Keringatnya menitik dari dahi, jatuh nyaris mengenai bibir wajan. Gerakannya lambat, mengendap, patuh pada hukum fisika purba: api tak boleh membesar agar kulit ketan tidak gosong mendahului empuknya kumbu kacang hijau di dalam perut kue.
Lalu, dalam hitungan detik, ketenangan arkais itu buyar
Dua pemuda berjaket parasut warna pastel melompat turun dari skuter matik. Tangan kanan mereka menggenggam ponsel pintar di ujung tongsis, lampu lingkaran mini (ring-light) menyala silau tepat di depan hidung si penjual kue.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Halo fellas! Balik lagi di edisi snackpacking kita! Hari ini kita nemu hidden gem jajanan pasar yang bener-bener legend dan slow living banget! Asli, ini wajib viral!”
Mulut pemuda itu berbusa-busa melepas serentetan jargon impor dalam tempo satu setengah detik per kalimat. Kamera berputar liar, mengambil gambar jarak dekat (macro shot) saat onde-onde diangkat dari tirisan, menyorot minyak jelantah yang menetes berkilat laksana permata murah.
Dalam dua pekan terakhir, kosa kata baru ini mendadak mengapung di etalase media sosial dan rilis resmi kementerian: snackpacking. Sebuah istilah mentereng yang dibaptis untuk menggantikan aktivitas paling purba dalam riwayat peradaban Nusantara yang bernama sederhana: berbelanja jajan pasar. Anak-anak kota yang lelah dikejar tenggat kantor mendadak merasa menjadi penjelajah samudra hanya karena sukses menelan sebutir getuk di emperan toko kelontong.
Namun di sinilah tragedi paling menggelikan itu bermula.
Republik ini gemar sekali merayakan kulit luar, tetapi gagap setengah mati menyusun kalimat ketika diminta menjelaskan rasa. Simak saja bagaimana para kreator konten itu memberi penilaian setelah mengunyah sebutir klepon di depan lensa kamera. Matanya mendelik dramatis, bibirnya terbuka lebar, lalu teriak: “Gila, meledak parah di mulut, guys! Manisnya pas, teksturnya legit, otentik parah!”
Hanya itu. Kosa kata kita mandek pada tripoda keramat: enak, manis, dan nagih.
Kita tidak pernah punya kamus kuratorial untuk membedakan onde-onde kelas rendahan dengan mahakarya perajin ulung. Apakah kulit ketannya punya lapisan kaca renyah (glass-like crisp) yang tipis sebelum menyerah pada kekenyalan lembut di lapisan dalam? Apakah wijennya menyelimuti bola tiga ratus enam puluh derajat tanpa pitak (ruang sela)? Dan bagaimana dengan kumbu kacang hijaunya—apakah ia berpasir kasar mencekik kerongkongan, atau telah terikat emulsi santan tua yang lumer di langit-langit mulut?
Nihil. Kita tidak punya rubrik, tidak punya leksikon, dan celakanya, birokrasi pariwisata kita lebih sibuk memoles tagar ketimbang membangun ekosistem mutu.
Di Prancis, seorang murid sekolah boga bisa dihukum jika lapisan mentega pada sepotong croissant tidak meletup pecah menjadi serpihan sarang lebah yang simetris. Di Jepang, sebutir kue tradisional wagashi dihormati laksana batu permata; dicatat riwayat air rebusannya, jenis kacang azuki-nya, hingga derajat keasaman pasta gulanya. Karena itulah mereka punya penghargaan kelas dunia.
Sementara di tanah air kita yang gemah ripah ini, onde-onde dan klepon selamanya dikurung dalam kutukan “makanan murah”. Kita rela merogoh dompet lima puluh ribu perak untuk sepotong roti kering buatan mesin pabrik waralaba, tapi bakal mencak-mencak histeris jika ada simbok penjual lupis menaikkan harga dari dua ribu menjadi lima ribu rupiah. Padahal nira arennya asli disadap dari bukit, kelapanya diparut dari butir cengkir setengah tua, dan daun pisang pembungkusnya diikat dengan tali bambu manual.
Ketika pembuat konten selesai merekam video lima belas detiknya, mereka membayar tiga butir onde-onde seharga enam ribu perak, lalu tancap gas pergi mengejar algoritma berikutnya.
Si bapak berkaus kutang kembali bergeming. Ia menghela napas panjang, menatap minyak hitamnya yang mulai mendingin. Di layar ponsel cerdas, videonya ditonton ratusan ribu orang dengan tagar pariwisata kebanggaan. Tapi besok pagi, harga gula pasir tetap naik, minyak curah tetap langka, dan onde-ondenya tetaplah sebutir kue ganjal perut yang dianggap remeh—tak pernah punya nama, tak pernah punya kasta, di tengah negeri yang sibuk menari di atas remah-remah tradisinya sendiri.


















