Tragedi Onde-Onde dan Lelucon Snackpacking

- Jurnalis

Selasa, 3 November 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Suarapanturanews.com — Asap tipis mengepul dari wajan seng berkarat di pinggir gang becek sebuah pasar kota kecamatan. Minyak kelapa sawit curah yang sudah menghitam legam itu bergolak lambat, berbuih malas, memanggang butir-butir onde-onde sebesar bola pingpong. Seorang bapak berkaus kutang compang-camping mengaduknya dengan sodet kayu yang ujungnya sudah arang. Keringatnya menitik dari dahi, jatuh nyaris mengenai bibir wajan. Gerakannya lambat, mengendap, patuh pada hukum fisika purba: api tak boleh membesar agar kulit ketan tidak gosong mendahului empuknya kumbu kacang hijau di dalam perut kue.

Lalu, dalam hitungan detik, ketenangan arkais itu buyar

Dua pemuda berjaket parasut warna pastel melompat turun dari skuter matik. Tangan kanan mereka menggenggam ponsel pintar di ujung tongsis, lampu lingkaran mini (ring-light) menyala silau tepat di depan hidung si penjual kue.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Halo fellas! Balik lagi di edisi snackpacking kita! Hari ini kita nemu hidden gem jajanan pasar yang bener-bener legend dan slow living banget! Asli, ini wajib viral!”

Mulut pemuda itu berbusa-busa melepas serentetan jargon impor dalam tempo satu setengah detik per kalimat. Kamera berputar liar, mengambil gambar jarak dekat (macro shot) saat onde-onde diangkat dari tirisan, menyorot minyak jelantah yang menetes berkilat laksana permata murah.

Dalam dua pekan terakhir, kosa kata baru ini mendadak mengapung di etalase media sosial dan rilis resmi kementerian: snackpacking. Sebuah istilah mentereng yang dibaptis untuk menggantikan aktivitas paling purba dalam riwayat peradaban Nusantara yang bernama sederhana:  berbelanja jajan pasar. Anak-anak kota yang lelah dikejar tenggat kantor mendadak merasa menjadi penjelajah samudra hanya karena sukses menelan sebutir getuk di emperan toko kelontong.

Namun di sinilah tragedi paling menggelikan itu bermula.

Republik ini gemar sekali merayakan kulit luar, tetapi gagap setengah mati menyusun kalimat ketika diminta menjelaskan rasa. Simak saja bagaimana para kreator konten itu memberi penilaian setelah mengunyah sebutir klepon di depan lensa kamera. Matanya mendelik dramatis, bibirnya terbuka lebar, lalu teriak: “Gila, meledak parah di mulut, guys! Manisnya pas, teksturnya legit, otentik parah!”

Hanya itu. Kosa kata kita mandek pada tripoda keramat: enak, manis, dan nagih.

Kita tidak pernah punya kamus kuratorial untuk membedakan onde-onde kelas rendahan dengan mahakarya perajin ulung. Apakah kulit ketannya punya lapisan kaca renyah (glass-like crisp) yang tipis sebelum menyerah pada kekenyalan lembut di lapisan dalam? Apakah wijennya menyelimuti bola tiga ratus enam puluh derajat tanpa pitak (ruang sela)? Dan bagaimana dengan kumbu kacang hijaunya—apakah ia berpasir kasar mencekik kerongkongan, atau telah terikat emulsi santan tua yang lumer di langit-langit mulut?

Nihil. Kita tidak punya rubrik, tidak punya leksikon, dan celakanya, birokrasi pariwisata kita lebih sibuk memoles tagar ketimbang membangun ekosistem mutu.

Di Prancis, seorang murid sekolah boga bisa dihukum jika lapisan mentega pada sepotong croissant tidak meletup pecah menjadi serpihan sarang lebah yang simetris. Di Jepang, sebutir kue tradisional wagashi dihormati laksana batu permata; dicatat riwayat air rebusannya, jenis kacang azuki-nya, hingga derajat keasaman pasta gulanya. Karena itulah mereka punya penghargaan kelas dunia.

Sementara di tanah air kita yang gemah ripah ini, onde-onde dan klepon selamanya dikurung dalam kutukan “makanan murah”. Kita rela merogoh dompet lima puluh ribu perak untuk sepotong roti kering buatan mesin pabrik waralaba, tapi bakal mencak-mencak histeris jika ada simbok penjual lupis menaikkan harga dari dua ribu menjadi lima ribu rupiah. Padahal nira arennya asli disadap dari bukit, kelapanya diparut dari butir cengkir setengah tua, dan daun pisang pembungkusnya diikat dengan tali bambu manual.

Ketika pembuat konten selesai merekam video lima belas detiknya, mereka membayar tiga butir onde-onde seharga enam ribu perak, lalu tancap gas pergi mengejar algoritma berikutnya.

Si bapak berkaus kutang kembali bergeming. Ia menghela napas panjang, menatap minyak hitamnya yang mulai mendingin. Di layar ponsel cerdas, videonya ditonton ratusan ribu orang dengan tagar pariwisata kebanggaan. Tapi besok pagi, harga gula pasir tetap naik, minyak curah tetap langka, dan onde-ondenya tetaplah sebutir kue ganjal perut yang dianggap remeh—tak pernah punya nama, tak pernah punya kasta, di tengah negeri yang sibuk menari di atas remah-remah tradisinya sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel suarapanturanews.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Cek BSU dengan NIK 2026: Ini Link Resmi Kemnaker, Syarat Penerima, dan Cara Mengeceknya
BSU 2026 Rp900 Ribu Cair November-Desember, Ini Syarat dan Cara Ceknya
Polresta Bandara Soetta Pastikan Keberangkatan Haji dan Umrah di Terminal 2 Aman Kondusif
Lakukan Hal Ini, Cara Mengatasi Tumit Kaki Kering dan Pecah-Pecah
Dzikir Pagi Amalan Ringan yang Membawa Ketenangan dan Keberkahan Sepanjang Hari
Mahpudin Kipang Mengucapkan Selamat Memperingati Hari Sumpah Pemuda
Miftah Shuritho Camat Sepatan Timur Mengucapkan Selamat Memperingati Sumpah Pemuda
Bupati Tangerang Harap Para Santri Jadi Kader Pemimpin Masa Depan Yang Berakhlak, Berkarakter dan Berintegritas
Berita ini 4 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 3 November 2026 - 20:50 WIB

Tragedi Onde-Onde dan Lelucon Snackpacking

Selasa, 3 November 2026 - 20:34 WIB

Cek BSU dengan NIK 2026: Ini Link Resmi Kemnaker, Syarat Penerima, dan Cara Mengeceknya

Minggu, 1 November 2026 - 17:50 WIB

BSU 2026 Rp900 Ribu Cair November-Desember, Ini Syarat dan Cara Ceknya

Minggu, 1 November 2026 - 16:04 WIB

Polresta Bandara Soetta Pastikan Keberangkatan Haji dan Umrah di Terminal 2 Aman Kondusif

Jumat, 30 Oktober 2026 - 20:24 WIB

Lakukan Hal Ini, Cara Mengatasi Tumit Kaki Kering dan Pecah-Pecah

Berita Terbaru

Berita

Tragedi Onde-Onde dan Lelucon Snackpacking

Selasa, 3 Nov 2026 - 20:50 WIB

Kesehatan

Bayam Bantu Jaga Tekanan Darah, Ini Penjelasan Dokter Jantung

Senin, 2 Nov 2026 - 19:22 WIB

error: Hak Cipta Suarapanturanews.com