Suarapanturanews.com — Nyeri dada sering kali langsung dikaitkan dengan serangan jantung. Tidak sedikit orang yang panik, takut tiba-tiba kolaps atau meninggal mendadak. Padahal menurut dokter, tidak semua nyeri dada berasal dari gangguan jantung. Ada banyak kondisi lain yang bisa menimbulkan sensasi serupa, mulai dari gangguan lambung, otot, hingga faktor psikologis seperti kecemasan.
Secara medis, nyeri dada memang menjadi salah satu gejala utama serangan jantung. Namun, karakter nyeri akibat jantung biasanya memiliki ciri khas tertentu. Nyeri terasa seperti ditekan benda berat, menjalar ke lengan kiri, leher, rahang, atau punggung, disertai sesak napas, keringat dingin, mual, dan rasa lemas hebat. Nyeri ini umumnya muncul saat aktivitas atau stres dan tidak membaik dengan perubahan posisi tubuh.
Sebaliknya, banyak nyeri dada yang berasal dari saluran pencernaan, terutama akibat GERD atau asam lambung naik. Pada kondisi ini, nyeri sering disertai rasa panas di dada (heartburn), sensasi asam atau pahit di mulut, perut kembung, dan sendawa berlebihan. Nyeri bisa memburuk setelah makan besar, berbaring, atau mengonsumsi makanan pedas dan berlemak. Meski terasa mengganggu, nyeri akibat GERD tidak merusak otot jantung, namun tetap perlu ditangani agar tidak menimbulkan komplikasi.
Selain itu, nyeri dada juga bisa berasal dari otot dan tulang dada. Aktivitas fisik berat, posisi duduk yang buruk, atau ketegangan otot dapat menimbulkan nyeri tajam yang terasa saat ditekan atau saat tubuh bergerak. Nyeri jenis ini biasanya membaik dengan istirahat dan tidak disertai gejala sistemik seperti keringat dingin atau sesak napas berat.
Faktor lain yang sering luput disadari adalah gangguan kecemasan dan serangan panik. Saat seseorang mengalami kecemasan berlebihan, tubuh melepaskan hormon stres yang dapat menyebabkan jantung berdebar, napas terasa pendek, dan nyeri dada. Kondisi ini sering membuat penderitanya merasa seperti mengalami serangan jantung, padahal hasil pemeriksaan jantung normal.
Meski begitu, dokter menegaskan bahwa nyeri dada tidak boleh diabaikan, terutama jika muncul mendadak, sangat hebat, atau disertai gejala berbahaya seperti pingsan, sesak napas berat, dan keringat dingin. Pemeriksaan medis tetap diperlukan untuk memastikan penyebab pastinya, karena hanya melalui evaluasi klinis dan pemeriksaan penunjang diagnosis yang akurat dapat ditegakkan.
Untuk mengurangi risiko nyeri dada non-jantung, masyarakat disarankan menjaga pola makan sehat, menghindari makanan pemicu asam lambung, mengelola stres dengan baik, berolahraga secara teratur, serta menjaga kualitas tidur. Sementara itu, bagi mereka yang memiliki faktor risiko penyakit jantung seperti merokok, hipertensi, diabetes, atau riwayat keluarga, pemeriksaan kesehatan rutin menjadi langkah penting yang tidak boleh diabaikan.
Kesimpulannya, nyeri dada memang tidak selalu berarti serangan jantung, namun juga bukan sesuatu yang bisa disepelekan. Mengenali perbedaannya dapat membantu masyarakat lebih tenang, waspada, dan tepat dalam mengambil keputusan untuk mencari pertolongan medis.
























