Nyeri Dada Langsung Dikira Serangan Jantung? Ini Penjelasan Medis yang Jarang Diketahui

- Jurnalis

Sabtu, 24 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Suarapanturanews.com — Nyeri dada sering kali langsung dikaitkan dengan serangan jantung. Tidak sedikit orang yang panik, takut tiba-tiba kolaps atau meninggal mendadak. Padahal menurut dokter, tidak semua nyeri dada berasal dari gangguan jantung. Ada banyak kondisi lain yang bisa menimbulkan sensasi serupa, mulai dari gangguan lambung, otot, hingga faktor psikologis seperti kecemasan.

Secara medis, nyeri dada memang menjadi salah satu gejala utama serangan jantung. Namun, karakter nyeri akibat jantung biasanya memiliki ciri khas tertentu. Nyeri terasa seperti ditekan benda berat, menjalar ke lengan kiri, leher, rahang, atau punggung, disertai sesak napas, keringat dingin, mual, dan rasa lemas hebat. Nyeri ini umumnya muncul saat aktivitas atau stres dan tidak membaik dengan perubahan posisi tubuh.

Sebaliknya, banyak nyeri dada yang berasal dari saluran pencernaan, terutama akibat GERD atau asam lambung naik. Pada kondisi ini, nyeri sering disertai rasa panas di dada (heartburn), sensasi asam atau pahit di mulut, perut kembung, dan sendawa berlebihan. Nyeri bisa memburuk setelah makan besar, berbaring, atau mengonsumsi makanan pedas dan berlemak. Meski terasa mengganggu, nyeri akibat GERD tidak merusak otot jantung, namun tetap perlu ditangani agar tidak menimbulkan komplikasi.

Selain itu, nyeri dada juga bisa berasal dari otot dan tulang dada. Aktivitas fisik berat, posisi duduk yang buruk, atau ketegangan otot dapat menimbulkan nyeri tajam yang terasa saat ditekan atau saat tubuh bergerak. Nyeri jenis ini biasanya membaik dengan istirahat dan tidak disertai gejala sistemik seperti keringat dingin atau sesak napas berat.

Faktor lain yang sering luput disadari adalah gangguan kecemasan dan serangan panik. Saat seseorang mengalami kecemasan berlebihan, tubuh melepaskan hormon stres yang dapat menyebabkan jantung berdebar, napas terasa pendek, dan nyeri dada. Kondisi ini sering membuat penderitanya merasa seperti mengalami serangan jantung, padahal hasil pemeriksaan jantung normal.

Meski begitu, dokter menegaskan bahwa nyeri dada tidak boleh diabaikan, terutama jika muncul mendadak, sangat hebat, atau disertai gejala berbahaya seperti pingsan, sesak napas berat, dan keringat dingin. Pemeriksaan medis tetap diperlukan untuk memastikan penyebab pastinya, karena hanya melalui evaluasi klinis dan pemeriksaan penunjang diagnosis yang akurat dapat ditegakkan.

Untuk mengurangi risiko nyeri dada non-jantung, masyarakat disarankan menjaga pola makan sehat, menghindari makanan pemicu asam lambung, mengelola stres dengan baik, berolahraga secara teratur, serta menjaga kualitas tidur. Sementara itu, bagi mereka yang memiliki faktor risiko penyakit jantung seperti merokok, hipertensi, diabetes, atau riwayat keluarga, pemeriksaan kesehatan rutin menjadi langkah penting yang tidak boleh diabaikan.

Kesimpulannya, nyeri dada memang tidak selalu berarti serangan jantung, namun juga bukan sesuatu yang bisa disepelekan. Mengenali perbedaannya dapat membantu masyarakat lebih tenang, waspada, dan tepat dalam mengambil keputusan untuk mencari pertolongan medis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel suarapanturanews.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

HUT RSUD Pakuhaji Ke 8 Gelar Aksi Sosial Dan Cek Kesehatan Gratis
HUT RSUD Pakuhaji Tegaskan Komitmen BerbenahBerikan Pelayanan Kepada Masyarakat
Muhidin Ketua LSM Seroja Indonesia DPC kabupaten Tangerang Ucapkan Selamat Hari Jadi RSUD Pakuhaji yang Ke. 8 Semakin Terdepan Melayani Masyarakat
Penyuluhan mengenai Kanker Payudara dan Kanker Serviks di Ruang Tunggu dan Ruang Pendaftaran dalam Rangka Hari Kanker Sedunia Tahun 2026
Waspada Virus Nipah 2026: Kenali Gejala yang Menyerang Otak dan Cara Mencegahnya
Kades Daon H. Johani AMTG Ajak Warga Gotong Royong Bersihkan Lingkungan
Cegah Stunting Sejak Dini, Puskesmas Sukadiri Gelar “Garasi Gemilang” di SMPN 1 Sukadiri
7 Manfaat Konsumsi Pepaya Saat Perut Kosong di Pagi Hari
Berita ini 17 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 4 Februari 2026 - 01:32 WIB

HUT RSUD Pakuhaji Ke 8 Gelar Aksi Sosial Dan Cek Kesehatan Gratis

Selasa, 3 Februari 2026 - 04:56 WIB

HUT RSUD Pakuhaji Tegaskan Komitmen BerbenahBerikan Pelayanan Kepada Masyarakat

Senin, 2 Februari 2026 - 10:33 WIB

Muhidin Ketua LSM Seroja Indonesia DPC kabupaten Tangerang Ucapkan Selamat Hari Jadi RSUD Pakuhaji yang Ke. 8 Semakin Terdepan Melayani Masyarakat

Sabtu, 31 Januari 2026 - 11:58 WIB

Penyuluhan mengenai Kanker Payudara dan Kanker Serviks di Ruang Tunggu dan Ruang Pendaftaran dalam Rangka Hari Kanker Sedunia Tahun 2026

Selasa, 27 Januari 2026 - 00:27 WIB

Waspada Virus Nipah 2026: Kenali Gejala yang Menyerang Otak dan Cara Mencegahnya

Berita Terbaru

error: Hak Cipta Suarapanturanews.com