Suarapanturanews.com — Tangerang, Hari ke-15 bulan Ramadan, masyarakat muslim menjalani tradisi “ngupat” atau Qunut. Tradisi “ngupat” yaitu membuat ketupat lengkap dengan sayur dan kuahnya untuk dimakan bersama keluarga maupun diberikan kepadaJamaah dimasjid ataupun di mushola untuk disantap bersama.
Tradisi membuat ketupat setiap 15 Ramadan ini sudah menjadi tradisi turun-temurun oleh warga masyarakat di seluruh dunia
Dalam proses membuat ketupat, terlebih dahulu warga membuat kulit ketupat dari daun pohon kelapa yang masih muda atau disebut janur. Setalah itu, kulit ketupat yang sudah jadi diisi dengan beras dan langsung direbus di atas wajan atau Lanseng.

Pada umumnya masyarakat lebih senang memasak ketupat dengan menggunakan tungku bahan bakar kayu. Hal ini diyakini ketupat yang dihasilkan akan lebih harum dan terasa gurih jika dibandingkan dengan menggunakan kompor.

Untuk merebus ketupat dibutuhkan waktu sekitar lima jam ataupun lebih. Hal ini dilakukan agar ketupat benar-benar matang dan siap disajikan.
Menurut salah satu warga, ibu ocih mengatakan bahwa tradisi ‘‘ngupat’’ ini sudah dilakukan turun temurun setiap hari ke-15 Ramadan atau disebut Qunutan.
“ya sudah jadi tradisi turun temurun, pokoknya setiap hari ke-15 Ramadan itu pasti membuat ketupat atau Qunutan, nanti ngariung di masjid atau di musholah.
Ketupat yang matang lengkap dengan sayur opornya akan disajikan pada malam harinya. dengan ngariung atau membawa ketupat ke masjid atau ke mushola untuk dilakukan doa bersama setalah salat Tarawih.






















