Suarapanturanews.com — Tangerang, Media Center Sukadiri (MCS) menyoroti dinamika perayaan malam takbiran yang dinilai mengalami pergeseran, dari yang semula berfokus pada nilai spiritual menjadi semakin beragam dalam bentuk ekspresi di ruang publik.
Ketua MCS, Ijum Setiawan, S.S., S.H., menyampaikan bahwa fenomena ini perlu menjadi perhatian bersama, terutama dalam menjaga keseimbangan antara kreativitas masyarakat dan esensi ibadah dalam perayaan Idul Fitri.
“Fenomena ini tentunya menjadi bahan evaluasi bersama bagi kita semua—baik tokoh agama maupun pemerintah.
Perayaan Idul Fitri harus tetap dijaga pada koridor nilai dan makna yang sebenarnya. Bukan untuk melarang masyarakat berekspresi, tetapi lebih kepada mengarahkan agar ekspresi tersebut tidak kehilangan ruh spiritualnya,” ujarnya.
Menurutnya, perkembangan bentuk perayaan seperti arak-arakan, konvoi, maupun kreasi visual merupakan bagian dari dinamika sosial yang tidak bisa dihindari.
Namun demikian, arah dari ekspresi tersebut tetap perlu dibingkai dengan nilai-nilai keislaman.
MCS juga mengingatkan bahwa malam takbiran sejatinya merupakan momentum sakral untuk mengumandangkan takbir sebagai bentuk rasa syukur dan pengagungan kepada Allah, bukan semata-mata menjadi ruang hiburan.
Lebih lanjut, MCS menilai bahwa tren visual dalam perayaan takbiran saat ini perlu disikapi secara bijak agar tidak mengarah pada bentuk-bentuk yang kehilangan identitas keislaman.
“Dalam konteks ini, kami juga mengingatkan agar perayaan takbiran tidak berkembang ke arah yang justru mengaburkan nilai. Jangan sampai menyerupai pola-pola arak-arakan seperti Ogoh-ogoh yang secara filosofi berbeda dengan tradisi dalam Islam. Kita harus punya jati diri dalam mengekspresikan kegembiraan Idul Fitri,” tegas Ijum Setiawan, S.S., S.H.
“Kami tidak ingin melarang kreativitas. Justru kami mendorong generasi muda untuk terus berinovasi. Namun, kreativitas itu harus tetap berpijak pada nilai dan seni Islami, bukan sekadar mengejar kemeriahan,” lanjutnya.
Sebagai langkah ke depan, MCS mendorong adanya dialog terbuka lintas elemen masyarakat untuk merumuskan pola perayaan yang lebih terarah.
“Ke depan, kami ingin ada ruang duduk bersama antara Majelis Ulama Indonesia, pemerintah setempat, organisasi kemasyarakatan, serta tokoh pemuda. Ini penting agar arah perayaan Idul Fitri tidak berjalan sendiri-sendiri tanpa panduan nilai,” ujarnya.
Ia berharap, melalui kolaborasi tersebut, dapat lahir format perayaan Idul Fitri yang tetap meriah dan kreatif, namun tidak kehilangan esensi spiritualnya.
“Harapannya, ke depan perayaan tetap hidup dan semarak, tetapi juga membawa pesan moral dan nilai ibadah.
Jangan sampai generasi mendatang hanya mengenal Idul Fitri sebagai perayaan ramai, tanpa memahami makna kembalinya manusia kepada fitrah,” tambahnya.
MCS menegaskan bahwa perayaan yang baik adalah perayaan yang mampu menjaga keseimbangan antara ekspresi budaya dan nilai keagamaan.
“Perayaan boleh berkembang, tetapi nilai tidak boleh hilang. Di situlah pentingnya peran bersama dalam menjaga arah,” pungkasnya























