Suarapanturanews.com — Setiap Iduladha, satu kebiasaan hampir selalu terulang di banyak rumah: begitu daging kurban datang, dapur langsung sibuk. Sate mulai dibakar, gulai disiapkan, dan daging segera diolah karena khawatir cepat basi atau berbau. Namun, benarkah daging kurban memang harus langsung dimasak?
Jawabannya: tidak selalu. Dalam beberapa kondisi, daging yang baru dipotong justru belum berada pada kualitas terbaik untuk langsung diolah.
Menurut para ahli pangan, daging segar yang baru dipotong justru belum berada pada kondisi terbaik untuk langsung diolah. Agar kualitas daging tetap terjaga dan aman dikonsumsi, ada beberapa fakta penting yang perlu dipahami masyarakat.
1. Daging Baru Dipotong Belum Tentu Lebih Empuk
Daging segar mengalami proses biologis bernama rigor mortis, yaitu kondisi ketika otot hewan masih menegang setelah penyembelihan. Dalam fase ini, tekstur daging justru bisa terasa lebih alot apabila langsung dimasak.
Badan Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) menyarankan proses pendinginan (chilling) pada suhu sekitar 0-4°C selama beberapa jam agar kualitas dan tekstur daging menjadi lebih baik sebelum diolah.
2. Daging Tidak Harus Langsung Dicuci
Masih banyak orang langsung mencuci daging mentah sebelum dimasukkan ke kulkas. Padahal, panduan keamanan pangan dari United States Department of Agriculture (USDA) menyebutkan bahwa mencuci daging mentah justru berisiko menyebarkan bakteri melalui percikan air ke permukaan dapur.
Sebagai alternatif, daging lebih dianjurkan disimpan terlebih dahulu dalam wadah tertutup sebelum diolah.
3. Cara Menyimpan Lebih Penting daripada Cepat Memasak
Menurut rekomendasi keamanan pangan, daging segar dapat bertahan sekitar 3–5 hari di chiller dan hingga beberapa bulan di freezer apabila disimpan dengan benar.
Sayangnya, masih banyak masyarakat menyimpan daging tanpa pengemasan yang tepat sehingga kualitas lebih cepat menurun.
4. Konsumsi Daging Berlebihan Perlu Dibatasi
Momentum Iduladha sering kali membuat konsumsi daging merah meningkat drastis. Padahal, Kementerian Kesehatan RI mengingatkan bahwa konsumsi lemak jenuh berlebih dapat meningkatkan risiko hipertensi, kolesterol tinggi, hingga penyakit jantung apabila tidak diimbangi pola makan sehat.
Pada akhirnya, persoalannya bukan soal cepat atau lambat memasak daging kurban, melainkan bagaimana masyarakat memahami cara pengolahan yang tepat. Iduladha bukan hanya tentang menerima daging, tetapi juga mengelola keberkahan dengan bijak—termasuk dalam cara menyimpan, mengolah, dan mengonsumsinya.





















