Suarapanturanews.com — KH Hasyim Asy’ari menulis Adabul ‘Alim wal Muta’allim bukan untuk mengajarkan sopan santun dalam arti yang sempit. Kitab itu lahir dari kegelisahan seorang ulama yang melihat bahwa ilmu bisa kehilangan ruhnya ketika manusia tidak lagi memiliki adab.
Dalam pandangan beliau, tujuan pendidikan bukan sekadar membuat seseorang mengetahui banyak hal, melainkan membentuk manusia yang mampu menempatkan dirinya di hadapan Tuhan, sesama manusia, dan alam semesta. Karena itu, ilmu tidak pernah berdiri sendiri. Ia harus berjalan bersama akhlak, kerendahan hati, kejujuran, dan tanggung jawab moral.
Beliau memahami satu kenyataan yang sering dilupakan: orang bodoh mungkin hanya merusak dirinya sendiri, tetapi orang berilmu yang kehilangan adab dapat merusak masyarakat, merusak agama, bahkan merusak sebuah bangsa. Ketika ilmu tidak lagi dipandu oleh nurani, kecerdasan berubah menjadi alat pembenaran. Dalil digunakan untuk menyerang, bukan menerangi. Pengetahuan digunakan untuk menguasai, bukan memuliakan.
Di sisi lain, KH Ahmad Dahlan menyaksikan persoalan yang berbeda. Ia melihat umat Islam hidup dalam keterbelakangan yang panjang. Agama diajarkan dengan semangat yang besar, tetapi sering kali terpisah dari realitas kehidupan. Banyak yang tekun menghafal, tetapi sedikit yang memahami. Banyak yang sibuk membicarakan akhirat, tetapi mengabaikan tanggung jawab membangun dunia.
Sementara itu, sekolah-sekolah kolonial melahirkan manusia yang menguasai ilmu pengetahuan modern, administrasi, dan teknologi, tetapi sering kehilangan kedalaman spiritual. Lahirlah dua dunia yang berjalan sendiri-sendiri: agama tanpa kemajuan dan kemajuan tanpa jiwa.
KH Ahmad Dahlan menolak keduanya.
Beliau tidak menginginkan umat Islam menjadi sekadar penghafal kitab yang tidak mampu membaca perubahan zaman. Tetapi beliau juga tidak menginginkan lahirnya manusia modern yang kehilangan arah hidup. Baginya, Islam tidak pernah bertentangan dengan ilmu pengetahuan. Islam justru memerintahkan manusia untuk berpikir, meneliti, membaca, dan belajar sepanjang hayat.
Karena itu, jika KH Hasyim Asy’ari berusaha menyelamatkan ruh pendidikan, maka KH Ahmad Dahlan berusaha menyelamatkan akal pendidikan. Yang satu menanamkan akar, yang satu memperluas cabang. Yang satu membangun kedalaman, yang satu membangun keluasan. Dan keduanya sama-sama sedang membangun manusia.
Sayangnya, lebih dari satu abad kemudian, kita justru kembali terjebak dalam masalah yang mereka coba selesaikan.
Kita hidup di zaman ketika informasi melimpah, tetapi kebijaksanaan semakin langka. Sekolah berdiri di mana-mana, kampus tumbuh di berbagai kota, gelar akademik bertambah setiap tahun, tetapi kualitas berpikir publik justru sering memprihatinkan. Kemampuan menghafal lebih dihargai daripada kemampuan memahami. Kepatuhan lebih dipuji daripada keberanian berpikir. Pertanyaan sering dianggap ancaman, bukan jalan menuju pengetahuan.
Di banyak tempat, adab bahkan disalahpahami.
Adab dipersempit menjadi budaya diam. Hormat diartikan sebagai larangan mengkritik. Takzim dipahami sebagai kewajiban menerima semua ucapan tanpa berpikir. Akibatnya, lahirlah generasi yang patuh secara lahiriah tetapi rapuh secara intelektual.
Padahal para ulama besar masa lalu tidak pernah takut pada pertanyaan. Mereka justru membangun peradaban melalui perdebatan, penelitian, pengkajian, dan pencarian kebenaran yang tidak pernah berhenti. Imam Syafi’i berbeda pendapat dengan gurunya. Imam Ghazali mengkritik para filsuf. Ibnu Rusyd mengkritik Al-Ghazali. Tidak ada yang kehilangan adab hanya karena menggunakan akalnya.
Sebaliknya, peradaban runtuh ketika manusia berhenti berpikir dan mulai menganggap semua pertanyaan sebagai ancaman.
Hari ini kita juga menyaksikan paradoks yang menyakitkan. Semakin banyak simbol agama, tetapi belum tentu semakin banyak kejujuran. Semakin ramai ceramah, tetapi belum tentu semakin sedikit korupsi. Semakin mudah mengakses ilmu, tetapi semakin sulit menemukan keteladanan.
Kita menghasilkan banyak orang yang mampu berbicara tentang moralitas, tetapi sedikit yang berani membayar harga untuk mempertahankannya. Kita melahirkan banyak sarjana, tetapi tidak cukup banyak pencari kebenaran. Kita membangun gedung-gedung pendidikan yang megah, tetapi sering lupa membangun karakter manusia yang akan mengisinya.
Inilah yang mungkin paling dikhawatirkan oleh KH Hasyim Asy’ari dan KH Ahmad Dahlan jika mereka hidup hari ini: pendidikan berubah menjadi pabrik sertifikat, sementara agama berubah menjadi identitas sosial. Keduanya kehilangan fungsi utamanya sebagai sarana memanusiakan manusia.
Padahal bangsa tidak dibangun oleh banyaknya ijazah. Bangsa juga tidak dibangun oleh banyaknya slogan keagamaan. Bangsa dibangun oleh manusia-manusia yang memiliki integritas, kemampuan berpikir, keberanian moral, dan kesediaan untuk terus belajar.
Sejarah membuktikan bahwa sebuah bangsa tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Banyak peradaban hancur justru ketika orang-orang pintarnya kehilangan hati nurani dan orang-orang salehnya kehilangan keberanian untuk berpikir.
Karena itu, warisan terbesar KH Hasyim Asy’ari dan KH Ahmad Dahlan bukanlah organisasi besar yang mereka tinggalkan. Warisan terbesar mereka adalah gagasan bahwa ilmu dan adab tidak boleh dipisahkan. Akal dan iman tidak boleh dipertentangkan. Kesalehan dan kemajuan harus berjalan beriringan.
Mereka telah menggambar peta jauh sebelum kita lahir.
Masalahnya, hari ini terlalu banyak orang sibuk memperebutkan nama mereka, tetapi sedikit yang sungguh-sungguh melanjutkan cita-citanya. Terlalu banyak yang mengaku mengikuti jalan para ulama, tetapi enggan meneladani keberanian berpikir dan kejujuran intelektual mereka.
Peta itu masih ada. Jalannya masih terbuka. Tetapi sebuah peta tidak akan pernah membawa siapa pun ke tujuan jika hanya dipajang di dinding, diperdebatkan, dipuja, lalu dilupakan.
Dan mungkin pertanyaan paling penting untuk bangsa ini bukan lagi: siapa yang paling benar mewarisi KH Hasyim Asy’ari atau KH Ahmad Dahlan?
Melainkan: apakah kita masih memiliki keberanian untuk berjalan di jalan yang mereka tunjukkan?
Penulis : Ijum Setiawan, SS, SH
















