Ketika Organisasi Kepemudaan Hanya Tinggal Nama: Menguji Kembali Peran Karang Taruna dan KNPI di Tingkat Kecamatan

- Jurnalis

Selasa, 18 Agustus 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Suarapanturanews.com — Ada pertanyaan yang semakin relevan untuk diajukan di tengah kehidupan sosial masyarakat: di mana peran organisasi kepemudaan ketika pemuda justru sedang berhadapan dengan begitu banyak persoalan?

Di banyak kecamatan, nama Karang Taruna dan KNPI masih tercatat sebagai organisasi kepemudaan. Struktur kepengurusan tersedia. Jabatan telah dibagi. Pelantikan pernah digelar. Dokumentasi kegiatan pun mungkin tersimpan rapi.

Namun persoalannya bukan apakah organisasi itu ada.

Persoalannya adalah: apakah keberadaannya benar-benar dirasakan?

Sebab organisasi yang hanya hidup dalam struktur administrasi, tetapi minim aktivitas dan kontribusi sosial, pada akhirnya berisiko menjadi organisasi yang secara formal ada, tetapi secara substantif kehilangan fungsi.

Jangan Sampai Organisasi Hanya Hidup dalam Seremoni

Pelantikan bukanlah prestasi.

Seragam bukanlah prestasi.

Foto bersama pejabat bukanlah prestasi.

Bahkan banyaknya pengurus pun belum tentu menunjukkan sehatnya sebuah organisasi.

Semua itu hanyalah instrumen.

Prestasi organisasi sesungguhnya terlihat dari apa yang dilakukan setelah seremoni selesai.

Di situlah ukuran kepemimpinan diuji.

Apakah pengurus mampu membangun kader?

Apakah ada program yang berkelanjutan?

Apakah pemuda mendapatkan ruang untuk berkembang?

Apakah masyarakat merasakan manfaatnya?

Apakah organisasi hadir ketika persoalan sosial muncul?

Jika jawabannya tidak jelas, maka publik memiliki alasan yang cukup untuk bertanya: untuk apa organisasi itu dibentuk?

Pemuda Seharusnya Menjadi Kekuatan Sosial

Karang Taruna dan KNPI memiliki posisi strategis dalam ekosistem sosial masyarakat.

Pemuda bukan sekadar kelompok yang dapat dikumpulkan ketika pemerintah membutuhkan peserta kegiatan. Pemuda seharusnya menjadi kekuatan sosial yang mampu melahirkan gagasan, mengembangkan potensi ekonomi, membangun solidaritas, mengawal persoalan masyarakat, sekaligus menjadi bagian dari solusi.

Karena itu, organisasi kepemudaan seharusnya tidak hanya sibuk dengan agenda internal.

Ada pengangguran pemuda.

Ada persoalan pendidikan.

Ada kenakalan remaja.

Ada penyalahgunaan narkotika.

Ada persoalan lingkungan.

Ada kesenjangan ekonomi.

Ada kebutuhan terhadap pelatihan dan keterampilan.

Ada generasi muda yang membutuhkan ruang untuk berkembang.

Di mana organisasi kepemudaan ketika semua persoalan itu terjadi?

Pertanyaan tersebut mungkin terasa keras.

Tetapi organisasi yang memiliki mandat sosial memang harus siap diuji dengan pertanyaan-pertanyaan yang keras.

Jangan Menjadi Organisasi yang Menunggu.

Organisasi kepemudaan juga perlu keluar dari budaya menunggu.

Menunggu anggaran.Menunggu bantuan.Menunggu undangan.Menunggu program pemerintah.Menunggu momentum.

Padahal organisasi yang memiliki gagasan tidak semestinya selalu menunggu orang lain bergerak terlebih dahulu.

Keterbatasan anggaran memang nyata. Tetapi kreativitas tidak selalu membutuhkan anggaran besar.

Diskusi pemuda dapat dimulai dengan sederhana.

Pelatihan dapat dibangun melalui kolaborasi.

Kegiatan sosial dapat dilakukan dengan gotong royong.

Pemberdayaan ekonomi dapat dimulai dari potensi lokal.

Advokasi sosial dapat dilakukan melalui pengetahuan dan keberanian.

Yang sering kali kurang bukan semata-mata anggaran, tetapi keberanian untuk memulai.

Jabatan Jangan Berhenti Menjadi Gelar

Ada kecenderungan yang harus dihindari dalam organisasi kepemudaan: ketika jabatan lebih penting daripada kerja.

Ketua menjadi simbol.

Sekretaris menjadi nama dalam struktur.

Bendahara menjadi bagian dari administrasi.

Sementara anggota tidak tahu harus melakukan apa.

Jika organisasi seperti ini dibiarkan, maka kaderisasi akan mati perlahan.

Generasi muda akan kehilangan kepercayaan.

Dan organisasi hanya akan diwariskan dari satu kepengurusan ke kepengurusan berikutnya tanpa perubahan berarti.

Jabatan seharusnya menjadi beban tanggung jawab, bukan sekadar gelar sosial.

Seorang ketua harus mampu menunjukkan arah.

Seorang pengurus harus mampu menghasilkan program.

Seorang kader harus mendapatkan ruang untuk tumbuh.

Dan seluruh organisasi harus mampu menjawab kebutuhan masyarakat.

Kritik Terhadap Organisasi Bukan Berarti Membenci Pemuda

Kritik terhadap Karang Taruna dan KNPI tidak seharusnya dipahami sebagai serangan terhadap organisasi maupun individu pengurus.

Justru kritik diperlukan karena organisasi kepemudaan memiliki posisi penting.

Kalau organisasi biasa saja tidak berjalan, mungkin dampaknya tidak terlalu besar.

Tetapi ketika organisasi yang seharusnya menjadi wadah pembinaan generasi muda kehilangan aktivitas, dampaknya jauh lebih panjang.

Yang hilang bukan hanya kegiatan.

Yang berpotensi hilang adalah kepercayaan generasi muda terhadap organisasi itu sendiri.

Karena itu, kritik harus ditempatkan sebagai mekanisme evaluasi.

Organisasi yang dewasa tidak alergi terhadap kritik.

Sebaliknya, organisasi yang kuat justru menjadikan kritik sebagai bahan untuk memperbaiki diri.

Saatnya Membuka Evaluasi Publik

Sudah waktunya organisasi kepemudaan di tingkat kecamatan berani melakukan evaluasi secara terbuka.

Bukan untuk mencari siapa yang salah, tetapi untuk melihat apa yang harus diperbaiki.

Pertanyaannya sederhana:

Berapa program yang benar-benar berjalan?

Berapa pemuda yang mendapatkan manfaat?

Apa kontribusi organisasi terhadap persoalan sosial di wilayahnya?

Bagaimana kaderisasi dilakukan?

Apa program yang berkelanjutan, bukan sekadar kegiatan sesaat?

Dan yang paling penting:

Jika organisasi tersebut tidak lagi aktif, mengapa kepengurusannya masih dipertahankan?

Pertanyaan terakhir mungkin paling tidak nyaman.

Tetapi terkadang pertanyaan yang tidak nyaman justru diperlukan untuk menyelamatkan sebuah organisasi dari kemunduran yang lebih jauh.

Organisasi Harus Kembali kepada Fungsinya

Karang Taruna dan KNPI tidak boleh berhenti sebagai nama yang tercantum dalam struktur kelembagaan.

Organisasi harus kembali kepada fungsi dasarnya: membangun pemuda, menggerakkan masyarakat, menciptakan ruang partisipasi, dan melahirkan kader yang memiliki kepedulian sosial.

Kalau organisasi hanya aktif ketika ada kegiatan seremonial, maka yang berkembang hanyalah seremoni.

Kalau organisasi hanya bergerak ketika ada anggaran, maka yang berkembang hanyalah ketergantungan.

Kalau organisasi hanya sibuk mengurus jabatan, maka yang berkembang hanyalah perebutan posisi.

Tetapi jika organisasi bergerak berdasarkan gagasan, kepedulian, kaderisasi, dan kebutuhan masyarakat, maka organisasi tersebut akan memiliki marwah.

Pada akhirnya, masyarakat tidak membutuhkan organisasi kepemudaan yang sekadar terlihat ada.

Masyarakat membutuhkan organisasi yang hadir ketika dibutuhkan, bekerja ketika ada persoalan, kritis ketika kebijakan perlu dikawal, dan konsisten ketika kepentingan masyarakat harus diperjuangkan.

Sebab ukuran organisasi bukan terletak pada panjangnya struktur kepengurusan.

Bukan pula pada megahnya pelantikan.

Bukan pada banyaknya foto kegiatan.

Melainkan pada satu hal yang paling sederhana:

Seberapa besar manfaat keberadaan organisasi itu bagi masyarakat?

Jika jawabannya sulit ditemukan, mungkin sudah waktunya organisasi tersebut bercermin.

Jangan sampai Karang Taruna dan KNPI di banyak kecamatan hanya tinggal nama—memiliki struktur, tetapi kehilangan gerakan; memiliki jabatan, tetapi kehilangan gagasan; memiliki organisasi, tetapi kehilangan fungsi.

Karena pemuda tidak membutuhkan organisasi yang sekadar ada.

Pemuda membutuhkan organisasi yang hidup.

Penulis : Ijum Setiawan, SH

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel suarapanturanews.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Sejak kecil kita diajari sopan santun, senyum ramah, basa-basi manis di setiap pertemuan. Tapi itu bukan watak asli, itu topeng
Cinta Bukan Tentang Memiliki, Melainkan Membebaskan
TPA Jatiwaringin Terbakar: Kegagalan yang Sudah Lama Terlihat, Tetapi Tidak Pernah Dianggap Mendesak
Benarkah LGBT Menjadi Instrumen Kontrol Populasi? Membaca Data di Balik Narasi Global
Ketua Karang Taruna Desa Turus Ucapkan Selamat Hari Bhayangkara ke-80, Dukung Polri Presisi untuk Negeri
MBG: Dari Janji Kampanye Menjadi Mesin Politik Kekuasaan?
Dari Pertalite ke Pertamax: Ketika Mekanisme Pasar Bertemu Kepentingan Politik
Cara Pemimpin Efektif Mengelola Pikiran dan Perasaannya
Berita ini 6 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 18 Agustus 2026 - 00:36

Ketika Organisasi Kepemudaan Hanya Tinggal Nama: Menguji Kembali Peran Karang Taruna dan KNPI di Tingkat Kecamatan

Rabu, 15 Juli 2026 - 05:50

Sejak kecil kita diajari sopan santun, senyum ramah, basa-basi manis di setiap pertemuan. Tapi itu bukan watak asli, itu topeng

Selasa, 7 Juli 2026 - 12:35

Cinta Bukan Tentang Memiliki, Melainkan Membebaskan

Minggu, 5 Juli 2026 - 10:23

TPA Jatiwaringin Terbakar: Kegagalan yang Sudah Lama Terlihat, Tetapi Tidak Pernah Dianggap Mendesak

Kamis, 2 Juli 2026 - 15:08

Benarkah LGBT Menjadi Instrumen Kontrol Populasi? Membaca Data di Balik Narasi Global

Berita Terbaru

error: Hak Cipta Suarapanturanews.com