Pendidikan Karakter: Memupuk Manusia Tahan Uji

- Jurnalis

Kamis, 10 September 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Suarapanturanews.com — Kehidupan modern bergerak dalam irama yang sulit diprediksi. Gelombang perubahan teknologi, pergeseran dinamika sosial, hingga ketidakpastian global sering kali datang tanpa mengetuk pintu.

Dalam lanskap yang penuh guncangan ini, ujian hidup tidak lagi terbatas pada lembar soal di ruang kelas, melainkan hadir dalam bentuk dinamika keseharian. Di sinilah relevansi manusia tahan uji (resilient human) menjadi sangat krusial: mereka yang tak berhenti tumbuh dan memandang seluruh realitas sebagai ruang belajar yang sesungguhnya.

Pendidikan kerap disempitkan maknanya sebatas dinding-dinding sekolah, kurikulum formal, dan gelar akademis. Padahal, sekolah hanyalah fase awal dari proses belajar sepanjang hayat (lifelong learning).

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Setelah masa sekolah usai, dunia nyata menyodorkan kurikulum yang jauh lebih kompleks. Di luar sana, kegagalan tidak diberi angka merah yang bisa diperbaiki lewat ujian remedial minggu depan. Kegagalan di lapangan nyata menuntut daya tahan mental, kedewasaan emosional, dan kemampuan untuk bangkit dari titik terendah.

Oleh karena itu, pembelajaran di luar bangku sekolah membutuhkan pembentukan sikap (attitude formation) yang kokoh. Gagasan ini sejalan dengan pandangan John C. Maxwell, seorang pakar kepemimpinan, yang menegaskan bahwa sikap adalah penentu utama respons manusia terhadap realitas.

Menurut Maxwell, kita tidak selalu bisa memilih atau mengendalikan apa yang terjadi pada diri kita, tetapi kita memiliki kendali penuh atas sikap yang kita pilih untuk meresponsnya. Dalam konteks pembelajar sejati, kegagalan tidak dipandang sebagai vonis akhir, melainkan sebagai umpan balik (feedback) berharga untuk melatih kematangan sikap.

Pembentukan sikap ini membutuhkan internalisasi nilai-nilai luhur. Di antara berbagai fondasi karakter yang dibutuhkan manusia modern, dua nilai klasik dalam kosa kata bahasa Indonesia memberikan pijakan yang sangat mendalam: aswatama dan derana.

Aswatama melambangkan keberanian serta semangat yang tak pernah padam. Dalam mengarungi kehidupan, seseorang akan berkali-kali dihadapkan pada situasi tidak nyaman.

Dunia kerja, dinamika komunitas, hingga pergumulan pribadi menuntut dorongan internal untuk terus berusaha meskipun hasil belum terlihat. Tanpa semangat aswatama, proses belajar berhenti saat kenyamanan terganggu. Seseorang yang memiliki aswatama memandang tantangan bukan sebagai rintangan yang mematikan, melainkan sebagai bahan bakar untuk berinovasi dan mencari jalan baru.

Di dunia pendidikan formal, semangat aswatama ini tecermin ketika para pendidik dan kepala sekolah berani keluar dari zona nyaman. Misalnya, saat menghadapi disrupsi teknologi digital dan perubahan kurikulum yang begitu cepat, pendidik yang berjiwa aswatama tidak menolak atau menyerah pada keadaan.

Mereka secara mandiri mempelajari metodologi pengajaran baru, bereksperimen dengan media digital di kelas, dan merancang pendekatan instruksional yang relevan bagi generasi muda, kendati harus melewati proses trial and error yang melelahkan.

Namun, keberanian untuk melangkah saja tidak cukup jika tidak diimbangi dengan derana. Derana memuat makna ketabahan yang mendalam—kemampuan untuk tidak mudah patah semangat dan tidak menaruh dendam atas kegagalan atau perlakuan yang tidak adil.

Dalam proses belajar di lapangan kehidupan, gesekan dan kekecewaan adalah hal yang mustahil dihindari. Usaha yang gagal atau gagasan yang ditolak sering kali memicu rasa frustrasi. Di titik inilah derana berperan sebagai benteng emosional agar jiwa tidak tercemar oleh kepahitan.

Kedalaman makna derana makin beralasan jika kita kaitkan dengan pemikiran psikolog dan filsuf John Powell. Dalam karyanya tentang dinamika pertumbuhan personal dan komunikasi emosional, Powell menekankan pentingnya penerimaan diri (self-acceptance) dan transparansi emosi yang sehat.

Menurut Powell, manusia yang matang adalah mereka yang tidak takut menjadi rentan (vulnerable) dan tidak membiarkan emosi negatif menguasai tindakan mereka.

Sikap derana ini berwujud nyata dalam konteks kepemimpinan organisasi. Seorang pimpinan lembaga atau manajer perusahaan yang mengusulkan transformasi strategis sering kali berhadapan dengan penolakan internal, kritik pedas, atau bahkan kegagalan proyek di tahap awal.

Pemimpin yang derana tidak menyikapi penolakan atau kritik tersebut dengan kemarahan, resistensi defensif, atau dendam politik kepada timnya. Sebaliknya, sesuai prinsip Powell, ia mampu mengolah kekecewaan tersebut secara dewasa, menerima kenyataan dengan tenang, menjadikan kritik sebagai bahan evaluasi reflektif, lalu mengajak seluruh tim untuk merajut kembali langkah perbaikan tanpa beban kesumat.

Penggabungan antara aswatama dan derana melahirkan sosok pembelajar sejati yang tahan uji. Aswatama memberikan dorongan untuk terus bergerak maju dan mendobrak keterbatasan, sementara derana memberikan keteguhan emosional agar tidak hancur saat diterpa badai. Keduanya membentuk resilience yang diintegrasikan oleh kekuatan sikap (Maxwell) dan kedewasaan emosional (Powell).

Di ruang-ruang kehidupan sehari-hari—baik di kelas, ruang rapat organisasi, maupun dalam perenungan pribadi—proses belajar yang sesungguhnya terus berlangsung. Setiap interaksi dan kegagalan adalah “mata pelajaran” yang menguji sejauh mana karakter kita telah terbentuk.

Mereka yang berhenti belajar ketika keluar dari pintu sekolah akan gagap menghadapi perubahan, sedangkan mereka yang merawat semangat belajar akan senantiasa menemukan relevansi keberadaannya.

Pada akhirnya, menjadi manusia tahan uji bukanlah tentang tidak pernah jatuh. Ini adalah tentang bagaimana kita menyikapi setiap kejatuhan tersebut.

Dengan merawat semangat aswatama yang menyala dan memeluk derana dalam ketabahan, kita tidak hanya bertahan di tengah perubahan, tetapi juga tumbuh menjadi pribadi yang makin bijaksana, matang, dan bermanfaat bagi lingkungan sekitar.

Belajar tidak pernah selesai ketika ijazah diterima; belajar baru benar-benar dimulai saat kita melangkah menghadapi dunia yang sesungguhnya.

Penulis : Odemus Bei Witono Kolumnis dan Pemerhati Pendidikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel suarapanturanews.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Ramalan Zodiak Sagittarius Kamis 3 September 2026, Jangan Tolak Ajakan
Logika Desil yang Terbalik: Saat Data Ekonomi Warga Tak Sesuai Realita
Ketika Organisasi Kepemudaan Hanya Tinggal Nama: Menguji Kembali Peran Karang Taruna dan KNPI di Tingkat Kecamatan
Sejak kecil kita diajari sopan santun, senyum ramah, basa-basi manis di setiap pertemuan. Tapi itu bukan watak asli, itu topeng
Cinta Bukan Tentang Memiliki, Melainkan Membebaskan
TPA Jatiwaringin Terbakar: Kegagalan yang Sudah Lama Terlihat, Tetapi Tidak Pernah Dianggap Mendesak
Benarkah LGBT Menjadi Instrumen Kontrol Populasi? Membaca Data di Balik Narasi Global
Ketua Karang Taruna Desa Turus Ucapkan Selamat Hari Bhayangkara ke-80, Dukung Polri Presisi untuk Negeri
Berita ini 12 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 10 September 2026 - 00:59 WIB

Pendidikan Karakter: Memupuk Manusia Tahan Uji

Kamis, 3 September 2026 - 00:46 WIB

Ramalan Zodiak Sagittarius Kamis 3 September 2026, Jangan Tolak Ajakan

Minggu, 30 Agustus 2026 - 01:25 WIB

Logika Desil yang Terbalik: Saat Data Ekonomi Warga Tak Sesuai Realita

Selasa, 18 Agustus 2026 - 00:36 WIB

Ketika Organisasi Kepemudaan Hanya Tinggal Nama: Menguji Kembali Peran Karang Taruna dan KNPI di Tingkat Kecamatan

Rabu, 15 Juli 2026 - 05:50 WIB

Sejak kecil kita diajari sopan santun, senyum ramah, basa-basi manis di setiap pertemuan. Tapi itu bukan watak asli, itu topeng

Berita Terbaru

Opini

Pendidikan Karakter: Memupuk Manusia Tahan Uji

Kamis, 10 Sep 2026 - 00:59 WIB

error: Hak Cipta Suarapanturanews.com