Suarapanturanews.com — Banyak orang mengira mencintai berarti memiliki. Karena itu, mereka berusaha menggenggam sekuat mungkin orang yang dicintainya, takut kehilangan, cemas ditinggalkan, bahkan tanpa sadar ingin mengendalikan setiap langkahnya. Padahal, cinta yang dibangun di atas hasrat untuk memiliki perlahan akan berubah menjadi ketakutan. Semakin erat genggaman, semakin besar kecemasan ketika kemungkinan kehilangan mulai menghampiri.
Cinta yang dewasa tidak tumbuh dari keinginan untuk menguasai, melainkan dari keberanian untuk memberi ruang. Ia bertumpu pada kepercayaan, penghormatan, dan ketulusan. Sebab cinta sejati tidak membutuhkan rantai agar tetap bertahan; ia memilih tinggal karena hati memang ingin menetap, bukan karena dipaksa untuk bertahan.
Membebaskan bukan berarti berhenti mencintai. Justru di sanalah cinta mencapai bentuknya yang paling luhur. Membebaskan adalah menghormati pilihan, menerima pertumbuhan, dan menyadari bahwa setiap manusia memiliki perjalanan hidup yang tidak selalu dapat kita tentukan. Perasaan tidak dapat dipertahankan dengan paksaan, ancaman, ataupun rasa bersalah. Kebersamaan yang dipelihara oleh keterpaksaan hanya akan menyisakan tubuh hubungan tanpa ruh kasih sayang.
Tidak semua yang pergi adalah kehilangan, sebagaimana tidak semua yang kembali adalah kebahagiaan. Ada orang yang hadir hanya untuk mengajarkan arti ketulusan, lalu melanjutkan perjalanannya. Ada pula yang sempat menjauh agar sama-sama bertumbuh, kemudian kembali dengan hati yang lebih matang. Setiap pertemuan memiliki makna, dan setiap perpisahan membawa pelajaran yang sering kali baru dipahami setelah waktu mengajarkannya.
Melepaskan memang tidak pernah mudah. Hati selalu ingin mempertahankan apa yang membuatnya bahagia. Namun kedewasaan mengajarkan bahwa tidak semua yang kita cintai ditakdirkan untuk kita miliki. Ada saat ketika kita harus berhenti menggenggam dengan cemas, lalu menyerahkan semuanya kepada Tuhan. Sebab apa yang benar-benar menjadi bagian kita tidak akan pergi hanya karena diberi kebebasan. Sebaliknya, apa yang memang bukan ditakdirkan untuk kita tidak akan mampu dipertahankan, sekeras apa pun kita berusaha.
Maka cintailah dengan tulus, bukan dengan keinginan untuk menguasai. Rawatlah hubungan dengan kasih sayang, kepercayaan, dan penghormatan, bukan dengan rasa takut kehilangan. Jika ia tetap memilih berjalan bersamamu, syukurilah sebagai anugerah. Jika ia memilih jalan yang berbeda, ikhlaskan sebagai bagian dari ketetapan-Nya.
Sebab cinta yang paling indah bukanlah cinta yang berhasil memiliki, melainkan cinta yang tetap memuliakan orang yang dicintainya—baik saat dipertemukan maupun ketika harus merelakan. Karena pada akhirnya, cinta sejati tidak berkata, “Engkau milikku,” melainkan, “Semoga engkau bahagia, meski kebahagiaanmu tidak selalu bersamaku.”
Penulis : Ijum Setiawan, SH













