Abad Kedua NU dan Tantangan Mewujudkan Tajdid Peradaban

- Jurnalis

Rabu, 9 September 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Suarapanturanews.com –– Memasuki usia satu abad, Nahdlatul Ulama (NU) menghadapi tantangan baru dalam mewujudkan tajdid peradaban. Semangat pembaruan yang menjadi bagian dari perjalanan organisasi ini diharapkan mampu melahirkan perubahan sosial yang membawa kemaslahatan bagi umat, bangsa, dan dunia.

Dalam tradisi Islam, tajdid dimaknai sebagai upaya memperbarui pemahaman dan praktik keagamaan agar tetap relevan dengan perkembangan zaman tanpa mengubah pokok ajaran agama. Pelaku pembaruan tersebut dikenal dengan istilah mujaddid, yakni individu atau kelompok yang berperan menghidupkan kembali nilai-nilai Islam, meluruskan penyimpangan pemahaman, serta menjawab tantangan yang muncul pada setiap era.

Konsep tersebut merujuk pada hadis riwayat Abu Dawud yang menyebutkan bahwa Allah SWT akan menghadirkan pembaru bagi umat Islam pada setiap pergantian seratus tahun. Para ulama menegaskan bahwa seorang mujaddid tidak membawa ajaran baru, melainkan memperkuat kembali nilai-nilai Islam yang telah ada.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sepanjang sejarah Islam, sejumlah tokoh besar kerap disebut sebagai mujaddid pada masanya. Di antaranya Khalifah Umar bin Abdul Aziz pada abad pertama Hijriah, Imam Syafi’i pada abad kedua Hijriah, serta Imam Al-Asy’ari dan Ibnu Al-Suraij pada abad ketiga Hijriah. Selain itu, para imam mazhab dan ahli hadis besar seperti Imam Bukhari serta Imam Muslim juga dinilai memiliki peran penting dalam pembaruan pemikiran Islam.

Memperingati 100 tahun berdirinya NU pada 1926–2026, sebagian kalangan memandang bahwa pembaruan tidak harus lahir dari satu figur besar. Tajdid dapat diwujudkan melalui gerakan kolektif yang dilakukan warga Nahdliyin yang berkhidmat secara tulus demi kemajuan organisasi dan kemaslahatan umat.

Pandangan tersebut sejalan dengan gagasan KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Tokoh yang dikenal sebagai pemikir progresif itu pernah menafsirkan bahwa mujaddid pada suatu masa dapat hadir dalam bentuk komunitas atau organisasi yang mampu merevitalisasi ajaran Islam dan mendorong lahirnya peradaban yang lebih baik.

Semangat tajdid peradaban juga tercermin dalam slogan NU, yakni “Merawat Jagad, Membangun Peradaban.” Gagasan tersebut mendorong warga Nahdliyin untuk memiliki wawasan yang lebih luas, berpikir global, serta tetap berpegang pada nilai-nilai kemanusiaan dalam menghadapi berbagai perubahan zaman.

Perkembangan pemikiran Islam di berbagai negara turut memberikan pengaruh terhadap dinamika intelektual di Indonesia. Pada era modern, muncul sejumlah tokoh yang berperan besar dalam pembaruan pemikiran keislaman dan kebangsaan, seperti KH Abdurrahman Wahid, Nurcholish Madjid, Jalaluddin Rakhmat, dan Amien Rais.

Di lingkungan NU sendiri, generasi muda pesantren terus bermunculan dengan berbagai kapasitas keilmuan dan pengaruh di tengah masyarakat. Nama-nama seperti Gus Baha, Gus Kautsar, Gus Reza, hingga Imam Jazuli menjadi bagian dari wajah baru kaderisasi yang tumbuh di lingkungan Nahdlatul Ulama.

Namun, perjalanan organisasi tidak lepas dari berbagai tantangan. Salah satu yang kerap menjadi sorotan adalah potensi tarik-menarik kepentingan politik praktis yang dapat menggeser orientasi utama organisasi sebagai wadah pengabdian umat.

Karena itu, keberlanjutan nilai-nilai NU perlu dijaga melalui penguatan tradisi berjamaah, kebersamaan, dan kepemimpinan kolektif. Prinsip tersebut menjadi fondasi penting dalam menjaga kesinambungan perjuangan organisasi dari generasi ke generasi.

Ketua Umum PBNU periode 2026–2031, KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin, menegaskan komitmennya untuk mengimplementasikan kembali nilai-nilai Qanun Asasi guna memperkuat ukhuwah, persatuan, serta pengabdian kepada masyarakat pada abad kedua NU.

Pesan serupa juga disampaikan mantan Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf. Dalam keterangannya pada akhir Juli 2026, ia mengingatkan seluruh warga NU agar tidak menjadikan organisasi sebagai alat kepentingan politik jangka pendek.

“NU terlalu agung untuk dijadikan contoh dagangan politik,” tegas Gus Yahya.

Menurutnya, NU lahir dari perjuangan dan pengorbanan para ulama yang mengabdikan harta, tenaga, serta jiwa demi menjaga agama, umat, dan bangsa. Oleh sebab itu, kehormatan organisasi harus tetap dijaga dan tidak ditukar dengan kepentingan sesaat.

“Oleh karena itu, martabat NU tidak layak ditukar dengan kepentingan saat ini atau dijadikan kendaraan untuk merebut kekuasaan,” ungkap KH Yahya Cholil Staquf.

Ia menambahkan bahwa dinamika politik akan selalu berubah, tetapi nilai-nilai pengabdian kepada umat, menjaga akidah Ahlussunnah wal Jamaah, memperkuat persatuan, dan mengabdi kepada bangsa harus tetap menjadi pegangan utama.

Politik bisa datang dan pergi, kekuasaan bisa berganti setiap masa. Namun khidmah kepada umat, menjaga akidah Ahlussunnah wal Jamaah, merawat persatuan, dan mengabdi kepada bangsa adalah warisan luhur yang tidak boleh diperjualbelikan,” sambungnya.

Gus Yahya juga mengajak warga NU untuk menunjukkan kecintaan terhadap organisasi melalui pengabdian yang ikhlas, sikap bijaksana, serta menempatkan kepentingan umat di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.

“Mencintai NU berarti menjaga marwahnya. Berkhidmah tanpa pamrih, berpikir bijaksana tanpa fanatisme buta, serta menempatkan kepentingan umat di atas kepentingan pribadi maupun golongan,” tambahnya.

Menurutnya, NU akan tetap menjadi organisasi yang mulia selama dijaga dengan keikhlasan dan semangat pengabdian yang diwariskan para ulama.

NU terlalu agung untuk dijadikan dagangan politik, karena NU adalah rumah perjuangan, ladang pengabdian, dan warisan para ulama yang harus dijaga kehormatannya hingga akhir zaman,” pungkas Gus Yahya.

Semangat menjaga marwah organisasi juga tercermin dalam tema Muktamar ke-35 NU di Jombang, yakni “Menjaga Marwah, Memperkaya Khidmat untuk Kemaslahatan Bangsa.”

Menjelang muktamar tersebut, berbagai gagasan pembaruan kembali mengemuka, termasuk melalui peluncuran buku Fikrah, Manhaj, dan Harakah Nahdhiyyah dalam Perspektif KH Ma’ruf Amin. Buku tersebut mengulas cara pandang, metodologi, dan gerakan keagamaan serta kebangsaan yang berlandaskan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah dan moderasi Islam.

Beberapa gagasan utama yang ditekankan antara lain pentingnya sikap moderat (tawassuth), seimbang (tawazun), toleran (tasamuh), serta budaya berpikir berdasarkan ilmu dan argumentasi yang kuat. Selain itu, kemandirian ekonomi umat juga dipandang sebagai bagian penting dari upaya membangun kesejahteraan dan memperkuat bangsa.

Perhatian terhadap kebangkitan ekonomi umat turut menjadi salah satu pesan penting yang disampaikan Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar saat penutupan Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, pada 31 Agustus 2026. Ia menekankan pentingnya kepemimpinan yang berpihak pada kesejahteraan rakyat, pemberantasan kebodohan, serta penguatan ekonomi umat demi terwujudnya kemaslahatan bersama.

Dengan memasuki abad kedua, NU dihadapkan pada tugas besar untuk menjaga warisan para ulama sekaligus menghadirkan pembaruan yang mampu menjawab kebutuhan zaman. Tajdid peradaban bukan sekadar wacana, melainkan ikhtiar kolektif untuk membangun masa depan yang lebih adil, beradab, dan bermanfaat bagi seluruh umat manusia.

Sumber Berita: nnc

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel suarapanturanews.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Menjaga Alam, Menjaga Kehidupan dan Masa Depan Generasi Mendatang
IPSI Kecamatan Mauk Resmi Dilantik, Abdul Ghofur SH: Merangkul Seluruh Elemen Seni Bela Diri
Memori Permainan Tradisional yang Kian Tergantikan Layar Kaca
Antusias Warga Perumahan Rajeg Asri Bergotong Royong Untuk Pembangunan Masjid Al-Islahiyyah
Maulud Nabi SAW dan Haul KH Hisyam Zuhdi di Ponpes At Taujieh El Islamy Banyumas
Minyak Zaitun Extra Virgin (EVOO) Disebut Baik untuk Jantung, Otak dan Usus, Ini Alasannya
Kami Ada Untuk Anda, Terima Jasa Kontruksi, Harga Bersahabat Dan Dijamin Berkualitas
Cara Membuat Telur Asin dari Telur Ayam agar Masir dan Berminyak
Berita ini 6 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 9 September 2026 - 01:04 WIB

Menjaga Alam, Menjaga Kehidupan dan Masa Depan Generasi Mendatang

Rabu, 9 September 2026 - 00:47 WIB

Abad Kedua NU dan Tantangan Mewujudkan Tajdid Peradaban

Senin, 7 September 2026 - 02:51 WIB

IPSI Kecamatan Mauk Resmi Dilantik, Abdul Ghofur SH: Merangkul Seluruh Elemen Seni Bela Diri

Sabtu, 5 September 2026 - 09:31 WIB

Memori Permainan Tradisional yang Kian Tergantikan Layar Kaca

Jumat, 4 September 2026 - 06:22 WIB

Antusias Warga Perumahan Rajeg Asri Bergotong Royong Untuk Pembangunan Masjid Al-Islahiyyah

Berita Terbaru

Kesehatan

Menakar Makna Olahraga bagi Remaja

Rabu, 9 Sep 2026 - 00:55 WIB

error: Hak Cipta Suarapanturanews.com