Memori Permainan Tradisional yang Kian Tergantikan Layar Kaca

- Jurnalis

Sabtu, 5 September 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Suarapanturanews.com — Bagi generasi yang tumbuh di era 90-an hingga awal 2000-an, sore hari adalah waktu paling dinanti untuk keluar rumah. Suara riuh anak-anak yang berkumpul di lapangan, tanah lapang, atau pekarangan tetangga menjadi pemandangan alami yang menghiasi suasana pemukiman.

Mulai dari permainan fisik seperti lompat karet, petak umpet, main kelereng, hingga permainan imajinatif sederhana seperti “mejikuhibiniu” dan eksplorasi di alam terbuka, semuanya dimainkan dengan penuh antusiasme tanpa perlu mengandalkan teknologi modern.

Pergeseran Ruang Bermain di Era Digital

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun, pemandangan tersebut kini kian langka ditemui. Halaman rumah yang dulu ramai dengan gelak tawa anak-anak kini cenderung lengang. Anak-anak masa kini lebih banyak menghabiskan waktu di dalam ruangan, menatap layar smartphone atau tablet untuk bermain game online dan menyaksikan tayangan streaming.

Perubahan ini tidak terjadi tanpa alasan. Pesona visual permainan digital yang interaktif, kepraktisan akses, hingga keterbatasan ruang terbuka hijau di kawasan pemukiman menjadi beberapa faktor pendorong bergesernya budaya bermain anak.

Dampak Bagi Perkembangan Fisik dan Sosial

Memudarnya kebiasaan bermain di luar ruangan membawa dampak tersendiri bagi tumbuh kembang anak. Permainan tradisional tidak sekadar memberikan hiburan, melainkan menjadi wadah melatih motorik kasar, stamina fisik, hingga keberanian mengeksplorasi lingkungan alam secara langsung.

Selain itu, permainan seperti petak umpet atau lompat karet secara tidak langsung mengajarkan nilai-nilai sosial yang penting: negosiasi, kerja sama tim, kejujuran, dan cara menyikapi kekalahan. Saat bermain secara langsung, anak-anak belajar membaca ekspresi wajah dan bahasa tubuh teman sebaya—hal yang sulit didapatkan dari interaksi di balik layar gawai.

Merawat Kenangan dan Menjaga Keseimbangan

Teknologi digital tentu membawa banyak kemudahan dan manfaat yang tidak bisa dihindari dalam kehidupan modern. Namun, mengenalkan kembali keseruan bermain di alam dan permainan tradisional tetap memiliki urgensi tersendiri.

Menciptakan ruang aman untuk bermain di luar serta membatasi durasi penggunaan gawai (screen time) dapat menjadi langkah awal untuk mengembalikan keseimbangan tersebut. Bagaimanapun juga, kenangan berlarian di bawah sinar matahari dan merasakan tanah di telapak kaki adalah pengalaman masa kecil yang tak tergantikan oleh aplikasi apa pun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel suarapanturanews.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Sibuk Bekerja? Ini Cara Sederhana Menjaga Tubuh Tetap Sehat dan Bugar
Stroberi Kaya Vitamin C, Ini 6 Manfaatnya untuk Kesehatan Tubuh
Raih Enam Medali Asian Games 2026, PBSI Perkuat Pembinaan Menuju Olimpiade 2028
Ketua FRIC DPW Banten Instruksikan Seluruh Wartawan Awasi Pelayanan Publik
Intan Nurul Hikmah: Pemimpin dengan Feminisme yang Merangkul
Ramalan Zodiak Sagitarius Jumat 9 Oktober 2026: Ide Besar Perlu Dijaga
DTRB dan Dinas Pertanian Kabupaten Tangerang Abaikan Panggilan Pengadilan: Bukti Tidak Taat Hukum?
10 Cara Hemat Sehari-Hari yang Bikin Dompet Tetap Aman
Berita ini 15 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 18 Oktober 2026 - 14:58 WIB

Sibuk Bekerja? Ini Cara Sederhana Menjaga Tubuh Tetap Sehat dan Bugar

Rabu, 14 Oktober 2026 - 19:35 WIB

Stroberi Kaya Vitamin C, Ini 6 Manfaatnya untuk Kesehatan Tubuh

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 18:35 WIB

Raih Enam Medali Asian Games 2026, PBSI Perkuat Pembinaan Menuju Olimpiade 2028

Jumat, 9 Oktober 2026 - 19:46 WIB

Ketua FRIC DPW Banten Instruksikan Seluruh Wartawan Awasi Pelayanan Publik

Jumat, 9 Oktober 2026 - 08:37 WIB

Intan Nurul Hikmah: Pemimpin dengan Feminisme yang Merangkul

Berita Terbaru

Opini

Kamis, 22 Okt 2026 - 06:39 WIB

error: Hak Cipta Suarapanturanews.com