Suarapanturanews.com — Coba ingat-ingat. Kapan terakhir kali ada yang bertanya “apa kabar?” dan kamu menjawab dengan jujur?
Kemungkinan besar jawabanmu masih sama seperti biasanya: “Baik kok. Kamu gimana?” Keluar begitu saja, nyaris tanpa dipikirkan, seperti refleks tangan yang menangkap gelas jatuh. Padahal semalam kamu baru tidur jam tiga pagi. Padahal sepanjang minggu ini ada sesuatu di dada yang rasanya tidak mau pergi.
Anehnya, kita bukan sedang berbohong. Atau kalaupun iya, itu bohong yang kita sendiri tidak sadar sedang kita ucapkan. Kalimat itu sudah terlalu sering dipakai, sampai lama-lama terasa seperti kebenaran.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Saya sering memperhatikan orang-orang di sekitar yang pandai sekali melakukannya. Teman kantor yang selalu jadi pendengar semua keluhan, tapi tak pernah cerita apa-apa tentang dirinya. Kakak sulung yang bilang “nggak apa-apa, aku bisa sendiri” setiap kali keluarga sedang butuh biaya. Atau kamu sendiri, yang membalas pesan dengan emoji tertawa padahal sedang menahan sesuatu yang lebih sunyi dari itu.
Mereka tidak sedang mencari perhatian, dan memang bukan itu tujuannya. Kadang alasannya sederhana saja: capek menjelaskan. Menjelaskan kenapa sedih saja butuh tenaga, apalagi kalau penyebabnya sendiri tidak jelas. Lebih mudah bilang “baik”, lalu semua orang tenang, dan hari bisa dilanjutkan.
Mungkin kebiasaan itu sudah kita pelajari sejak lama. Sejak ada yang berkata “jangan cengeng” waktu kita kecil, atau “masalahmu belum seberapa dibanding orang lain.” Kalimat-kalimat itu jarang bermaksud jahat. Tapi ia meninggalkan pesan yang menempel: bahwa perasaan yang berat sebaiknya disimpan sendiri, bahwa yang kuat adalah yang tidak kelihatan goyah. Lalu zaman bergerak, dan layar ponsel menambah tekanannya. Semua orang tampak sedang bahagia, sedang liburan, sedang naik jabatan. Kita menyimpan keruwetan sendiri dan merasa hanya kitalah yang berantakan, lupa bahwa orang lain pun sedang memilih potongan terbaik untuk diunggah.
Yang jarang dibicarakan, berpura-pura itu melelahkan. Rasanya seperti membawa tas berat sambil terus tersenyum pada orang yang berpapasan. Beban awalnya sudah ada, lalu kita menambahnya dengan usaha untuk tampak tidak membawa apa-apa.
Biasanya topeng itu baru terasa berat ketika semuanya sudah sepi. Di motor dalam perjalanan pulang, di kamar mandi dengan keran yang sengaja dinyalakan keras-keras, atau di tempat tidur ketika lampu sudah mati. Di situ tidak ada yang perlu diyakinkan, dan yang tersisa hanya diri sendiri, yang sejak pagi dipaksa menunggu giliran.
Saya tidak sedang menyarankan kita membuka semua hal kepada semua orang. Tidak semua orang pantas mendengar seluruh ceritamu, dan memilih kepada siapa kita terbuka adalah hakmu. Yang saya khawatirkan adalah ketika kita menutup pintu untuk semua orang, terus-menerus, sampai lupa bahwa pintu itu juga bisa dibuka dari dalam.
Perasaan yang dipendam juga tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya pindah tempat. Ke badan yang gampang capek, ke kepala yang sulit diam, ke hubungan yang pelan-pelan renggang tanpa kita tahu kapan mulainya.
Mungkin memulainya tidak perlu besar. Cukup ganti satu kali saja jawabanmu pada satu orang yang kamu percaya. “Lagi capek nih,” atau “Minggu ini lumayan berat.” Kalimat sependek itu sering kali sudah cukup membuat orang di seberang berhenti sebentar dan bertanya, “Mau cerita?” Kalau bebannya terasa terlalu berat atau sudah terlalu lama, bicara dengan psikolog atau konselor bukan tanda kamu gagal. Itu cara yang masuk akal untuk menjaga diri.
Dan kalau suatu hari kamu yang ditanya, atau kamu yang bertanya, coba tanyakan sekali lagi dengan sungguh-sungguh. Karena bisa jadi, orang yang tampak paling baik-baik saja di dekatmu hari ini, sedang menunggu ada yang tidak puas dengan jawaban pertamanya.












