- Jurnalis

Kamis, 22 Oktober 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Suarapanturanews.com — Oktober selalu membawa suasana berbeda di banyak sekolah dan kampus. Panggung kecil didirikan di halaman, lomba baca puisi digelar, majalah dinding (mading) dihias warna-warni, dan poster Sumpah Pemuda mulai ditempel di dinding kelas. Tahun ini, menjelang peringatan Sumpah Pemuda ke-98 pada 28 Oktober 2026, Bulan Bahasa dan Sastra kembali menjadi pengingat bahwa bahasa persatuan lahir dari keberanian anak muda pada 1928. Persoalan yang layak direnungkan bukan lagi seberapa meriah perayaan berlangsung, melainkan seberapa lama semangat itu bertahan setelah panggung dibongkar dan spanduk diturunkan.

Bulan Bahasa sendiri bukan tradisi baru. Kegiatan ini rutin digelar setiap Oktober sejak 1980, kemudian menggunakan nama Bulan Bahasa dan Sastra sejak 1989. Usia yang panjang tersebut menunjukkan bahwa sastra telah lama dipandang sebagai bagian penting dari upaya merawat identitas bangsa. Sastra memang menjadi cermin budaya, sejarah, dan jati diri. Lewat cerita dan sajak, nilai-nilai luhur suatu masyarakat dapat dirasakan secara langsung, bukan sekadar dihafalkan untuk ujian. Bagi remaja yang akrab dengan gawai, perbedaan antara merasakan dan menghafal sering kali menentukan apakah sebuah nilai akan melekat atau lekas terlupakan.

Karya klasik menyediakan pintu masuk yang kokoh. Novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer memotret zaman pergerakan melalui tokoh muda yang belajar menimbang keadilan dan harga diri di tengah tatanan yang timpang. Sajak-sajak Chairil Anwar menyimpan energi perlawanan dan kegigihan hidup yang masih terasa segar bagi generasi sekarang. Membaca karya-karya tersebut bukan semata-mata ziarah ke masa lampau. Sejarah hadir sebagai pengalaman manusia yang utuh, lengkap dengan keraguan, cinta, dan keberanian. Dengan demikian, pembaca muda dapat menimbang makna perjuangan melalui sudut pandang masing-masing.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Karya kontemporer mengisi jarak antara masa lalu dan keseharian remaja masa kini. Novel Hujan karya Tere Liye menghadirkan masa depan yang rapuh dan persahabatan yang diuji, sedangkan Laut Bercerita karya Leila S. Chudori mengajak pembaca menyelami kehilangan dan ingatan kolektif melalui kisah sekelompok anak muda. Kedua novel tersebut populer di kalangan pembaca muda dan kerap memicu percakapan, mulai dari klub buku sekolah hingga kolom komentar media sosial. Kisah semacam ini dapat menumbuhkan kepedulian terhadap sesama sekaligus mendorong ketertarikan pada seni, ilmu pengetahuan, ataupun kegiatan sosial. Meski demikian, dorongan tersebut tidak otomatis berubah menjadi tindakan. Ruang praktik dan pendampingan tetap dibutuhkan agar inspirasi dari bacaan benar-benar membuahkan hasil di lapangan.

Pembentukan karakter menjadi sumbangan lain yang tidak kalah penting. Alif dalam novel Negeri 5 Menara karya Ahmad Fuadi, misalnya, digambarkan sebagai santri perantau yang belajar bahwa kerja keras dan optimisme mampu membuka jalan menuju cita-cita. Tokoh fiksi seperti itu terasa dekat karena perjalanan jatuh bangun sang tokoh tergambar dengan jelas. Dengan demikian, keberanian, empati, dan kejujuran tidak berhenti sebagai slogan di dinding sekolah. Keteladanan yang dirasakan melalui cerita sering kali lebih mudah diingat daripada nasihat yang disampaikan berulang kali.

Manfaat membaca sastra juga menjalar ke wilayah yang lebih luas. Cerita mendorong pembaca menempatkan diri pada posisi tokoh dengan latar belakang, usia, dan nasib yang berbeda sehingga empati terlatih secara alami. Kemampuan memahami makna tersirat, menimbang motif tokoh, dan menilai peristiwa dari berbagai sudut pandang merupakan bekal berpikir kritis yang berguna di ruang kelas, tempat kerja, bahkan ketika menyaring arus informasi di linimasa. Bagi generasi yang setiap hari dibanjiri potongan informasi, kebiasaan membaca secara utuh dan perlahan menjadi latihan yang semakin berharga.

Cinta tanah air dalam sastra pun memiliki beragam bentuk. Ada karya yang merayakan keindahan alam dan kearifan lokal, ada yang mengurai luka sejarah dengan jernih, dan ada pula yang mengkritik kebiasaan buruk masyarakat secara jenaka. Keragaman tersebut mengajarkan bahwa patriotisme yang sehat tumbuh dari kemampuan memandang bangsa apa adanya, lengkap dengan kebanggaan dan pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan. Kritik yang disampaikan secara santun melalui cerita justru menandakan kepedulian karena sesuatu yang dicintai juga perlu diperbaiki.

Kekayaan sastra daerah menambah lapisan makna lainnya. Pantun, hikayat, cerita rakyat, dan tradisi lisan dari berbagai penjuru Nusantara menyimpan kosakata, humor, serta kearifan yang tidak selalu tertampung dalam bacaan berbahasa Indonesia baku. Mengenalkan kembali khazanah tersebut kepada pelajar mengajarkan bahwa persatuan tidak identik dengan keseragaman. Semangat 1928 dapat berjalan beriringan dengan penghormatan terhadap bahasa ibu, dan sastra menjadi ruang tempat kedua hal itu bertemu.

Ruang berekspresi juga terbuka lebar. Puisi, cerita pendek, novel, hingga komik dan novel grafis memberi wadah bagi anak muda untuk menyuarakan aspirasi, kritik, dan harapan terhadap bangsa. Platform digital seperti Wattpad dan Instagram memperluas jangkauan karena karya dapat dibaca oleh teman sebaya di kota lain tanpa harus menunggu diterbitkan oleh penerbit. Namun, sisi lain perkembangan tersebut tetap perlu diperhatikan. Derasnya arus unggahan membuat tulisan bermutu mudah tenggelam, sedangkan format ringkas belum tentu melatih ketekunan membaca teks panjang. Pegiat literasi menilai ruang digital akan lebih bermanfaat jika disertai kurasi dan pembiasaan membaca secara mendalam.

Di balik potensi besar tersebut, tantangan literasi masih nyata. Kajian Perpustakaan Nasional bersama konsultan Indekstat yang dipublikasikan pada 30 Desember 2024, dengan cakupan 38 provinsi dan 514 kabupaten/kota, mencatat Tingkat Gemar Membaca nasional sebesar 72,44, naik dari 66,70 pada tahun sebelumnya. Capaian tersebut patut diapresiasi, meskipun masih berada dalam kategori sedang. Di sisi lain, hasil PISA 2022 menempatkan skor membaca pelajar Indonesia pada angka 359, lebih rendah dibandingkan dengan periode sebelumnya. Kedua potret tersebut memperlihatkan bahwa kegemaran membaca belum tentu sejalan dengan kemampuan memahami bacaan. Perpusnas sendiri mulai mengalihkan perhatian pada kualitas proses membaca melalui pedoman pengukuran yang terbit pada 2025, yang menilai tahap sebelum, saat, dan sesudah membaca.

Penyebab persoalan ini beragam. Akses terhadap buku belum merata, terutama di daerah terpencil. Dominasi media digital menyita waktu luang, sedangkan promosi literasi kerap berhenti pada seremoni tahunan. Perpusnas mendorong pemanfaatan anggaran desa untuk membangun perpustakaan desa dan taman bacaan masyarakat sebagai salah satu solusi. Namun, keberhasilan langkah tersebut bergantung pada kesungguhan pengelolaan di tingkat lokal. Tanpa buku yang mudah dijangkau, imbauan membaca hanya akan terdengar seperti slogan.

Pendekatan inovatif juga dibutuhkan. Di ruang kelas, pembelajaran sastra yang berhenti pada hafalan nama pengarang dan tahun terbit perlu bergeser menuju pengalaman membaca yang menyenangkan. Kegiatan seperti bedah buku, pentas teater, menulis ulang akhir cerita, atau membuat siniar (podcast) ulasan buku dapat menjadi alternatif. Sebagian pendidik mengingatkan bahwa jam pelajaran dan beban administrasi sudah padat sehingga perubahan perlu didukung pelatihan dan bahan ajar yang praktis. Festival sastra dapat menjadi pemantik, asalkan dirancang sebagai pintu masuk menuju kebiasaan membaca, bukan sebagai tujuan akhir. Platform digital juga layak dimanfaatkan untuk mempromosikan karya bermutu, misalnya melalui ulasan singkat dan sesi membaca bersama secara daring.

Kolaborasi lintas pihak menjadi kunci. Pemerintah berperan memperluas akses perpustakaan dan menyediakan buku berkualitas. Sekolah dan perguruan tinggi menanamkan apresiasi terhadap sastra sejak dini. Komunitas sastra membuka lokakarya menulis, diskusi karya, dan kegiatan literasi yang lebih cair. Penerbit dan pegiat literasi dapat menghadirkan bacaan yang terjangkau serta relevan dengan dunia remaja. Tidak ada satu pihak pun yang sanggup memikul beban ini sendirian. Pembagian peran yang jelas akan membuat upaya masing-masing pihak saling menguatkan.

Lingkungan keluarga sering kali luput dari pembicaraan, padahal kebiasaan membaca paling awal terbentuk di rumah. Orang tua yang menyisihkan waktu untuk membacakan cerita, menempatkan rak buku agar mudah dijangkau anak, atau sesekali mengajak anak berkunjung ke perpustakaan sedang menanam benih yang kelak tumbuh menjadi minat baca. Keteladanan seperti itu tidak menuntut anggaran besar, melainkan kesabaran dan konsistensi. Sekolah dan komunitas dapat memperkuat kebiasaan tersebut, tetapi fondasinya akan lebih kokoh jika dirintis sejak dini di lingkungan terdekat.

Dedikasi terhadap bangsa pun tidak selalu hadir dalam bentuk tindakan besar. Membaca satu bab sebelum tidur, menulis ulasan singkat, menghadiri diskusi buku di perpustakaan daerah, atau menerbitkan puisi di media sosial merupakan langkah-langkah kecil yang, jika dilakukan secara konsisten, dapat menumbuhkan kesadaran kolektif dan rasa solidaritas di kalangan anak muda. Kebiasaan sederhana tersebut membentuk warga yang terbiasa memahami sudut pandang orang lain, sebuah kecakapan penting bagi masyarakat majemuk yang sedang menata masa depan bersama.

Ikrar Sumpah Pemuda dahulu diucapkan melalui bahasa, dan bahasa tetap hidup selama terus digunakan untuk bercerita, berpikir, dan berbagi gagasan. Sastra merawat fungsi tersebut. Di tangan generasi muda yang membaca dengan sungguh-sungguh, menulis dengan jujur, dan berbagi karya secara santun, halaman buku maupun layar ponsel dapat menjadi jembatan yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan.

Upaya merawat bahasa dan sastra memang tidak selesai dalam satu bulan. Namun, setiap halaman yang dibaca menjadi tabungan makna bagi masa depan bersama. Oleh karena itu, Bulan Bahasa dan Sastra 2026 layak dimaknai sebagai awal sebuah kebiasaan, bukan akhir sebuah perayaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel suarapanturanews.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Apa Arti ‘Cukup’ di Tengah Dunia yang Selalu Minta Lebih?
Pendidikan dan Multiliterasi sebagai Landasan Pengembangan Masyarakat
DLHK Kabupaten Tangerang: Pengawas Lingkungan atau Sekadar Penerima Laporan?
10 TANDA MUSRENBANG DESA HANYA MENJADI FORMALITAS
PANGGUNG POLITIK DIANTARA BUPATI DAN WAKIL BUPATI TANGERANG “Sebuah Analisa”
Pendidikan Karakter: Memupuk Manusia Tahan Uji
Ramalan Zodiak Sagittarius Kamis 3 September 2026, Jangan Tolak Ajakan
Logika Desil yang Terbalik: Saat Data Ekonomi Warga Tak Sesuai Realita
Berita ini 12 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 22 Oktober 2026 - 06:39 WIB

Selasa, 6 Oktober 2026 - 07:18 WIB

Apa Arti ‘Cukup’ di Tengah Dunia yang Selalu Minta Lebih?

Senin, 5 Oktober 2026 - 21:09 WIB

Pendidikan dan Multiliterasi sebagai Landasan Pengembangan Masyarakat

Minggu, 4 Oktober 2026 - 18:49 WIB

DLHK Kabupaten Tangerang: Pengawas Lingkungan atau Sekadar Penerima Laporan?

Senin, 28 September 2026 - 18:30 WIB

10 TANDA MUSRENBANG DESA HANYA MENJADI FORMALITAS

Berita Terbaru

Opini

Kamis, 22 Okt 2026 - 06:39 WIB

error: Hak Cipta Suarapanturanews.com