Suarapanturanews.com — Wanita yang mencintaiku tidak memiliki masa laluku.
Dan mungkin itu sebabnya ia mampu mencintaiku dengan cara yang begitu lembut.
Ia tidak mengenalku sebagai kumpulan kegagalan. Ia tidak mengenalku sebagai orang yang pernah salah arah. Ia tidak mengenalku sebagai seseorang yang berkali-kali kalah oleh keadaan. Ia mengenalku sebagai aku yang berdiri hari ini; seorang manusia yang masih memiliki keberanian untuk berharap meskipun pernah berkali-kali kecewa.
Padahal aku tahu, ada begitu banyak bagian dari diriku yang lahir dari luka.
Ada senyum yang dibangun di atas kesedihan yang panjang.
Ada ketenangan yang tumbuh dari badai yang pernah mengamuk.
Ada kebijaksanaan yang lahir dari penyesalan.
Dan ada cinta yang tumbuh dari kehilangan.
Namun wanita yang mencintaiku tidak pernah meminta penjelasan tentang semua itu.
Ia tidak sibuk menggali kuburan masa lalu untuk memastikan apakah aku pantas dicintai. Ia tidak menginterogasi bekas luka yang masih tersisa di jiwaku. Ia hanya datang dengan ketulusan yang sederhana, lalu mengajarkanku bahwa tidak semua orang memandang manusia dari kesalahan-kesalahannya.
Melalui matanya, aku belajar sesuatu yang selama ini sulit kupahami:
Bahwa manusia tidak harus selamanya tinggal di dalam cerita lamanya.
Bahwa seseorang boleh pernah jatuh tanpa harus selamanya disebut pecundang.
Bahwa seseorang boleh pernah tersesat tanpa harus kehilangan hak untuk menemukan jalan pulang.
Dan bahwa cinta yang sejati bukanlah cinta yang menuntut kesempurnaan, melainkan cinta yang mampu melihat harapan di balik segala kekurangan.
Karena itu, setiap kali ia memandangku, aku merasa seperti dilahirkan kembali.
Bukan sebagai lelaki yang pernah gagal.
Bukan sebagai manusia yang pernah melakukan kesalahan.
Bukan sebagai seseorang yang masih membawa bekas-bekas luka.
Tetapi sebagai jiwa yang masih layak dicintai.
Sebagai manusia yang masih memiliki kesempatan untuk menjadi lebih baik.
Sebagai seseorang yang tidak ditentukan oleh masa lalunya, melainkan oleh keberaniannya untuk terus melangkah.
Dan di situlah aku memahami makna cinta yang paling sunyi sekaligus paling agung:
Bahwa ada seseorang yang memilih melihat diriku sebagaimana Tuhan melihat harapan yang masih tumbuh di dalam dada ini, bukan sebagaimana dunia mengingat segala yang pernah salah.
Maka jika suatu hari seseorang bertanya mengapa aku begitu menghargai wanita yang mencintaiku, jawabannya sederhana.
Karena ia tidak pernah berusaha tinggal di masa laluku.
Ia memilih tinggal di masa depanku.
Dan bagi seseorang yang pernah berjalan sendirian melewati begitu banyak kegelapan, tidak ada anugerah yang lebih mengharukan daripada menemukan seseorang yang percaya bahwa dirinya masih pantas menuju cahaya.
Penulis : Ijum Setiawan, SH














