Suarapanturanews.com — Dokter spesialis penyakit dalam konsultan penyakit tropik dan infeksi, dr. Joyce Bratanata, Sp.PD, Subsp.PTI (K), FINASIM, mengingatkan bahwa paparan asap rokok dapat memicu kolonisasi bakteri patogen di saluran pernapasan yang berisiko menyebabkan pneumonia. Risiko tersebut tidak hanya mengancam perokok aktif, tetapi juga anggota keluarga yang terpapar asap rokok sebagai perokok pasif.
“Ternyata para perokok itu memiliki kolonisasi bakteri khusus di saluran hidung dan tenggorokan. Ketika sistem imun tubuh menurun, bakteri yang tadinya ada di saluran napas atas dengan mudah turun ke saluran napas bawah dan memicu pneumonia,” kata Joyce dalam diskusi kesehatan yang diselenggarakan Pfizer Indonesia di Jakarta, Kamis (24/9/2026).
Joyce menjelaskan, infeksi bakteri seperti Streptococcus pneumoniae yang masuk ke paru-paru dapat memicu peradangan pada kantung udara (alveoli). Kondisi ini menyebabkan penumpukan cairan hingga nanah, sehingga pasien mengalami sesak napas berat dan harus menjalani rawat inap.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam jangka panjang, paparan asap rokok yang berlangsung selama bertahun-tahun juga dapat merusak struktur jaringan paru-paru secara permanen hingga berkembang menjadi penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).
Oleh karena itu, Joyce mengimbau masyarakat yang masih memiliki kebiasaan merokok agar tidak merokok di dalam rumah atau ruangan tertutup.
Menurut dia, asap rokok yang terperangkap di dalam ruangan sangat membahayakan kelompok rentan, terutama anak-anak, balita, dan lanjut usia (lansia).
“Kalau Anda seorang perokok, tolong jangan merokok di rumah. Kasihan anak dan istri. Mereka yang terpapar asap rokok sebagai perokok pasif saluran napasnya juga menjadi rentan mengalami infeksi,” tegasnya.
Joyce menambahkan, kuman dan virus penyebab infeksi pernapasan dapat menyebar melalui udara (airborne). Keberadaan asap rokok di ruangan tertutup dapat semakin memperburuk pertahanan alami saluran pernapasan, sehingga kuman lebih mudah berpindah dari satu individu ke individu lainnya.
Sebagai langkah perlindungan menyeluruh bagi kesehatan pernapasan keluarga, ia menyarankan para perokok untuk menghentikan kebiasaan merokok.
Selain itu, masyarakat diimbau untuk membiasakan mencuci tangan sebelum menyentuh anak, menggunakan masker saat mengalami gejala batuk dan pilek, serta melengkapi vaksinasi bagi orang dewasa dan anak-anak guna mencegah risiko infeksi paru-paru.
“Menghentikan kebiasaan merokok tentu langkah yang jauh lebih baik. Jika belum bisa, setidaknya jangan pernah memaparkan asapnya kepada orang lain di sekitar kita,” tutur Joyce.













