Suarapanturanews.com — Pendidikan sering dipahami sebatas kegiatan belajar di ruang kelas. Padahal, pendidikan jauh lebih luas dari itu. Setelah membaca buku Pengantar Ilmu Pendidikan, saya memahami bahwa pendidikan adalah proses sadar dan terencana untuk mengembangkan potensi manusia, yang berlangsung di lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat. Buku ini membantu saya melihat bahwa pendidikan memiliki landasan, tujuan, serta komponen yang saling berkaitan, mulai dari peserta didik, pendidik, hingga lingkungan tempat proses belajar berlangsung.
Pemahaman tersebut penting bagi mahasiswa Pendidikan Masyarakat. Kami dipersiapkan untuk bekerja di tengah masyarakat, bukan hanya di dalam sekolah. Artinya, kami perlu memahami bahwa belajar dapat terjadi kapan saja dan di mana saja, serta bahwa setiap kelompok masyarakat memiliki kebutuhan belajar yang berbeda. Seorang ibu rumah tangga, petani, pemuda karang taruna, dan pedagang kecil tentu tidak membutuhkan hal yang sama dari sebuah kegiatan belajar.
Sementara itu, buku Pendidikan Multiliterasi karya Dr. Sudirman, S.E., M.Pd. dan Mahfuzi Irwan, S.Pd., M.Pd. memperluas pemahaman saya mengenai literasi dalam berbagai aspek kehidupan. Buku ini membahas literasi manusia, teknologi, digital, media, budaya, kesehatan, dan lingkungan. Menurut saya, beragam bentuk literasi tersebut relevan dengan kehidupan saat ini karena individu perlu mampu membaca, memahami, menganalisis, dan mengevaluasi informasi secara bijaksana, bukan hanya menguasai kemampuan akademik.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Selama ini, kata literasi kerap dipersempit menjadi kemampuan membaca dan menulis. Pandangan itu tentu tidak salah, tetapi belum cukup untuk menjawab kebutuhan zaman. Seseorang bisa lancar membaca, namun tetap kesulitan membedakan informasi yang benar dan yang menyesatkan. Seseorang bisa mahir menggunakan ponsel, namun belum tentu paham cara menjaga data pribadinya. Di sinilah konsep multiliterasi menjadi penting, karena ia mengajak kita memandang literasi sebagai seperangkat kemampuan yang saling melengkapi.
Relevansi itu terasa nyata dalam keseharian kita. Setiap hari kita menerima informasi dari media sosial, aplikasi pesan, hingga portal berita, dan tidak semuanya benar. Tanpa literasi digital dan literasi media, seseorang mudah terbawa kabar bohong, terpancing provokasi, atau salah mengambil keputusan. Tanpa literasi kesehatan, seseorang bisa keliru memahami anjuran medis. Tanpa literasi lingkungan, kebiasaan sederhana seperti membuang sampah sembarangan terus berulang karena dampaknya tidak dipahami.
Literasi budaya juga tidak kalah penting. Masyarakat Indonesia sangat beragam, sehingga kemampuan memahami dan menghargai perbedaan menjadi bekal agar interaksi di tengah keberagaman berjalan baik. Dari sini terlihat bahwa multiliterasi bukan hanya soal keterampilan teknis, tetapi juga soal sikap, yaitu kemauan untuk memahami orang lain dan bertanggung jawab atas apa yang kita bagikan.
Dalam kehidupan sehari-hari, kemampuan multiliterasi dapat membantu seseorang menghadapi berbagai informasi dan permasalahan. Kemampuan menggunakan teknologi, memahami informasi media, serta mempertimbangkan pengetahuan tentang kesehatan dan lingkungan merupakan bagian dari keterampilan yang dibutuhkan masyarakat. Karena itu, literasi tidak cukup dipahami sebagai kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga mencakup kemampuan menerapkan pengetahuan secara tepat sesuai situasi.
Setelah membaca dan membandingkan kedua buku tersebut, saya melihat bahwa pendidikan dan multiliterasi memiliki hubungan yang erat. Buku Pengantar Ilmu Pendidikan memberikan landasan untuk memahami bagaimana pendidikan berlangsung dan tujuan yang ingin dicapai. Adapun buku Pendidikan Multiliterasi memperluas landasan tersebut dengan menjelaskan kemampuan literasi yang diperlukan dalam kehidupan modern. Keduanya menunjukkan bahwa pendidikan perlu mengembangkan pengetahuan sekaligus kemampuan berpikir kritis, berkomunikasi, beradaptasi, dan berpartisipasi dalam masyarakat.
Hubungan ini dapat dibayangkan seperti pondasi dan bangunan. Pendidikan adalah pondasi yang menentukan arah dan tujuan, sedangkan multiliterasi adalah kemampuan-kemampuan yang membuat bangunan itu bisa digunakan dalam kehidupan nyata. Pondasi yang kuat tanpa kemampuan yang sesuai zaman akan membuat lulusan sulit menyesuaikan diri. Sebaliknya, keterampilan tanpa dasar pendidikan yang jelas dapat kehilangan arah dan nilai.
Dalam konteks pendidikan masyarakat, hubungan keduanya semakin terasa. Pendidikan masyarakat bertujuan membantu warga belajar sesuai kebutuhan hidupnya, sedangkan multiliterasi menyediakan ragam kemampuan yang dapat dipelajari untuk menjawab kebutuhan tersebut. Kegiatan belajar yang bertumpu pada multiliterasi memungkinkan warga tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga mampu menilai, memilih, dan memanfaatkan informasi itu untuk memperbaiki kehidupannya.
Sebagai mahasiswa Pendidikan Masyarakat, saya merasa pemahaman dari kedua buku ini bermanfaat untuk proses pembelajaran dan kegiatan di masyarakat. Pengetahuan tentang dasar-dasar pendidikan dapat menjadi acuan dalam merancang kegiatan pembelajaran, sedangkan pemahaman multiliterasi dapat membantu menyesuaikan kegiatan dengan kebutuhan masyarakat. Misalnya, kegiatan dapat diarahkan pada literasi kesehatan, literasi digital, atau literasi lingkungan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan sasaran.
Sebagai contoh, di lingkungan masyarakat yang banyak menggunakan ponsel tetapi belum terbiasa memeriksa kebenaran informasi, pelatihan literasi digital tentang cara mengenali berita bohong akan sangat berguna. Di daerah yang masih menghadapi masalah kebersihan, kegiatan literasi lingkungan dan kesehatan dapat menjadi pilihan. Bagi pelaku usaha kecil, pengenalan teknologi digital dapat membantu mereka memasarkan produk dengan lebih luas. Bagi kelompok pemuda, pelatihan menulis dan membuat konten positif dapat menjadi ruang untuk menyalurkan kreativitas. Dengan begitu, kegiatan pendidikan tidak seragam, tetapi disesuaikan dengan persoalan yang benar-benar dihadapi warga.
Menurut saya, penerapan pendidikan berbasis multiliterasi perlu memperhatikan keadaan masyarakat dan tidak hanya berfokus pada penyampaian materi. Kegiatan pembelajaran dapat mendorong peserta untuk memahami informasi, menghubungkannya dengan pengalaman, serta menggunakannya dalam kehidupan. Dengan demikian, pendidikan dapat menjadi proses yang lebih dekat dengan kebutuhan nyata dan membantu masyarakat mengembangkan kemampuan yang berguna.
Untuk itu, ada beberapa hal yang menurut saya perlu diperhatikan. Pertama, kegiatan sebaiknya diawali dengan mengenali kebutuhan warga, misalnya melalui obrolan, pengamatan, atau pertemuan kecil. Kedua, metode yang digunakan sebaiknya mengajak peserta berdiskusi dan mempraktikkan langsung, bukan hanya mendengarkan ceramah. Ketiga, bahasa dan contoh yang dipakai harus dekat dengan keseharian peserta agar mudah dipahami. Keempat, hasil kegiatan perlu dievaluasi, bukan hanya dilihat dari banyaknya peserta yang hadir, tetapi dari perubahan sikap dan kemampuan yang muncul setelahnya.
Tentu penerapannya tidak selalu mudah. Perbedaan latar belakang pendidikan, keterbatasan akses terhadap teknologi, dan rendahnya minat belajar di sebagian masyarakat bisa menjadi hambatan. Di sinilah peran pendidik masyarakat menjadi penting, yaitu hadir sebagai pendamping yang sabar, mau mendengarkan, dan mengajak warga belajar bersama, bukan sekadar menggurui. Kerja sama dengan tokoh masyarakat, perangkat desa, dan lembaga setempat juga diperlukan agar kegiatan berjalan berkelanjutan.
Peran mahasiswa pun tidak kecil. Kami dapat memulai dari hal sederhana, seperti membiasakan diri memeriksa sumber sebelum membagikan informasi, mengajak keluarga dan lingkungan sekitar berdiskusi tentang isu yang sedang beredar, atau terlibat dalam kegiatan pengabdian yang menyasar kebutuhan literasi warga. Kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten dapat menjadi contoh nyata bagi orang di sekitar kita.
Kedua buku tersebut membantu saya memahami bahwa pendidikan merupakan proses yang terus berkembang dan perlu menjawab perubahan dalam masyarakat. Pendidikan memberikan dasar bagi perkembangan individu, sementara multiliterasi memperkaya kemampuan untuk menghadapi beragam informasi dan tantangan. Menurut saya, kedua buku ini dapat menjadi sumber pembelajaran yang saling melengkapi, meskipun sumber tambahan tetap diperlukan untuk memperdalam beberapa materi. Hal yang penting adalah menerapkan pemahaman tersebut secara nyata agar pendidikan dapat memberikan manfaat dalam kehidupan sehari-hari.
Catatan Penutup
Pendidikan dan multiliterasi perlu terus dikembangkan sesuai dengan perubahan dan kebutuhan masyarakat. Dengan landasan pendidikan yang kuat dan kemampuan literasi yang luas, masyarakat tidak hanya mampu mengikuti perkembangan zaman, tetapi juga mampu memanfaatkannya untuk kehidupan yang lebih baik.













