Suarapanturanews.com — Tulisan ini tidak kutujukan untuk siapa pun. Tidak untuk mereka yang setuju, tidak pula untuk mereka yang menolak. Tulisan ini kutulis untuk diriku sendiri, sebagai pengingat bahwa aku tidak harus menjadi sama dengan semua orang agar dianggap waras.
Sering kali aku merasa berada di antara keramaian, tetapi berjalan di jalan yang berbeda. Apa yang kupikirkan tidak selalu mudah dipahami. Apa yang kuperjuangkan kadang dianggap berlebihan. Apa yang kulihat sering kali tidak dilihat oleh orang lain. Dan di saat-saat seperti itu, muncul pertanyaan yang diam-diam mengganggu: apakah aku yang salah, atau memang cara pandangku berbeda?
Kini aku mulai memahami bahwa perbedaan bukanlah kesalahan. Setiap manusia memandang dunia melalui jendela yang dibentuk oleh pengalaman, luka, kegagalan, harapan, dan perjalanan hidupnya masing-masing. Karena itu, tidak mungkin semua kepala memiliki isi yang sama, sebagaimana tidak mungkin semua hati merasakan hal yang sama.
Aku pernah dianggap aneh karena mempertanyakan sesuatu yang dianggap biasa. Pernah dianggap keras kepala karena mempertahankan keyakinan yang tidak populer. Pernah pula merasa sendirian ketika gagasan yang kubawa tidak menemukan tempat di tengah banyak orang. Namun waktu mengajarkanku bahwa tidak semua hal harus dimengerti oleh semua orang.
Ada saat ketika menjadi berbeda terasa melelahkan. Kesepian datang tanpa diundang. Keraguan muncul dan membuat langkah terasa berat. Tetapi justru dalam kesunyian itulah aku belajar mengenal diriku sendiri. Aku belajar bahwa nilai seseorang tidak ditentukan oleh banyaknya orang yang setuju dengannya, melainkan oleh keberaniannya untuk tetap jujur terhadap apa yang diyakininya benar.
Aku tidak ingin hidup hanya untuk menyesuaikan diri dengan harapan orang lain. Aku ingin tetap berpikir, tetap bertanya, tetap belajar, dan tetap berani melihat dunia dari sudut yang mungkin tidak biasa. Sebab sejarah tidak pernah berubah oleh mereka yang hanya mengikuti arus. Perubahan lahir dari orang-orang yang berani memandang sesuatu secara berbeda.
Karena itu, ketika suatu hari ada yang berkata bahwa aku aneh, terlalu banyak berpikir, atau bahkan dianggap tidak waras karena cara pandangku, aku ingin mengingat satu hal:
Bukannya aku gila. Hanya saja kepalaku berbeda dengan kepalamu.
Dan itu tidak apa-apa.
Sebab aku tidak diciptakan untuk menjadi salinan siapa pun. Aku diciptakan untuk menjadi diriku sendiri.
Penulis : Ijum Setiawan, SH














