Suarapanturanews.com — Keterikatan lahir dari rasa takut kehilangan. Ia tumbuh menjadi keinginan untuk menguasai, mengontrol, mencurigai, bahkan memanipulasi. Sementara cinta yang sehat justru memberi ruang; ruang untuk berubah, bertumbuh, dan tetap menjadi diri sendiri.
Aku mengetahui perbedaan itu bukan karena membaca banyak buku, melainkan karena pernah tersesat di dalamnya.
Dulu, aku dan istriku sering bertengkar. Bukan karena kami tidak saling mencintai, tetapi karena kami saling melukai dengan luka yang sebenarnya sudah ada jauh sebelum kami bersama. Setiap perdebatan kecil berubah menjadi ajang saling menyalahkan. Ego berbicara lebih keras daripada kasih sayang.
Yang paling menyakitkan, aku terlalu sering berbohong atas nama cinta. Kupikir beberapa kebohongan akan menjaga hubungan tetap utuh. Ternyata, kebohongan sekecil apa pun bukanlah bukti cinta, melainkan retakan yang perlahan menggerogoti kepercayaan. Cinta tidak membutuhkan kepalsuan untuk bertahan. Yang dibutuhkan cinta adalah keberanian untuk jujur, meski kejujuran itu menyakitkan.
Aku kemudian menyadari, hubungan yang sehat bukanlah dua orang yang saling memiliki, melainkan dua pribadi yang saling memilih setiap hari. Seperti dua aliran sungai yang mengalir berdampingan menuju lautan yang sama, tanpa harus memaksa satu sama lain mengubah arah.
Pertengkaran pun tidak selalu menjadi tanda bahwa cinta telah berakhir. Sering kali, pertengkaran hanyalah bahasa dari dua hati yang sama-sama terluka dan sama-sama ingin dimengerti. Masalahnya, kita lebih sibuk menyiapkan pembelaan daripada berusaha memahami.
Kini aku percaya, fondasi sebuah hubungan bukanlah seberapa besar kita mencintai pasangan, tetapi seberapa dewasa kita mengenal dan memperbaiki diri sendiri. Sebab seseorang yang berdamai dengan dirinya tidak akan mencintai dengan rasa takut. Ia mencintai dengan kepercayaan.
Jika hari ini aku bisa memberi satu pelajaran dari perjalanan hidupku, maka itu adalah ini:
Jangan jadikan cinta sebagai alasan untuk berbohong, mengontrol, atau mengekang. Karena ketika cinta kehilangan kejujuran dan kebebasan, yang tersisa hanyalah keterikatan yang perlahan mematikan hubungan.
Cinta sejati tidak pernah mengurung. Ia membebaskan, menguatkan, dan membuat kita pulang menjadi diri sendiri.
Penulis : Setiawan Rois













