Suarapanturanews.com — Aku telah siap menjadi sosok yang paling buruk dalam cerita siapa pun. Jika itulah harga yang harus kubayar agar seseorang menemukan ketenangan melalui versinya sendiri tentang kenyataan, maka aku menerimanya tanpa keberatan.
Manusia sering kali membutuhkan seorang antagonis untuk menjelaskan luka yang belum sanggup mereka sembuhkan. Maka, jika namakulah yang dipilih untuk mengisi peran itu, biarlah waktu menjadi saksi. Aku tidak memiliki kuasa atas bagaimana orang menilaiku, sebagaimana aku tidak mampu mengatur ke mana angin membawa debu.
Tetapi aku masih memiliki satu hak yang tidak bisa dirampas siapa pun: memilih untuk pergi.
Saat kisah ini berakhir, jangan lagi mencariku. Jangan mengetuk pintu yang telah kututup, dan jangan memanggil nama yang telah kupilih untuk kulepaskan. Biarkan jarak menjadi penghormatan terakhir bagi hubungan yang tak lagi memiliki tujuan untuk dipertahankan.
Tidak semua perpisahan membutuhkan kata maaf. Tidak semua luka menuntut penjelasan. Ada kalanya, kedamaian lahir justru ketika dua orang berhenti saling memaksa menerima sudut pandang yang berbeda.
Aku tidak akan menghabiskan sisa hidupku untuk membela diri di hadapan mereka yang telah menjatuhkan vonis tanpa pernah mendengar seluruh kisah. Waktu terlalu berharga untuk dihabiskan mengejar penerimaan dari orang yang telah memutuskan penilaiannya sejak awal.
Jika dalam ceritamu aku adalah tokoh yang paling buruk, simpanlah keyakinan itu. Aku tidak akan merampasnya. Sebab kebenaran tidak selalu membutuhkan pembelaan, dan keikhlasan tidak selalu menuntut pengakuan.
Hanya satu permintaanku…
Setelah semuanya usai, biarkan aku hidup dalam diam. Jangan lagi mengetuk pintu yang telah kupilih untuk kututup selamanya. Karena tidak semua yang pergi ingin ditemukan kembali. Ada yang memilih menghilang, bukan karena membenci, melainkan karena akhirnya belajar mencintai ketenangan.
Penulis : Ijum Setiawan, SH













