Goresan Kisahku

- Jurnalis

Minggu, 5 Juli 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Suarapanturanews.com — Aku tidak tahu sejak kapan cinta mulai berubah menjadi sesuatu yang pelan-pelan menghilangkan manusia di dalamnya.

Yang kutahu, pada akhirnya aku berdiri di satu titik di mana aku tidak lagi bisa menyebut diriku sepenuhnya baik, dan tidak juga sepenuhnya jahat—hanya seseorang yang terlambat memahami apa yang ia lakukan.

Ada banyak hati yang pernah hancur karena aku.

Dan tidak ada bahasa yang cukup lembut untuk menghapus makna dari kalimat itu.

Dulu aku mengira aku sedang mencintai.

Tapi mungkin yang kucintai bukan orangnya, melainkan rasa aman yang ingin kupaksa agar tidak pergi.

Aku menyebut takut sebagai perhatian.

Aku menyebut cemas sebagai kepedulian.

Aku menyebut menggenggam terlalu erat sebagai kesetiaan.

Padahal mungkin, itu hanya ketidakmampuan untuk melepaskan.

Ada yang dulu menatapku dengan tenang, lalu perlahan kehilangan suaranya di hadapanku.

Ada yang tetap tersenyum, tapi matanya sudah tidak lagi tinggal di sana.

Ada yang bertahan cukup lama untuk terlihat kuat, sampai akhirnya harus pergi hanya untuk kembali menjadi dirinya sendiri.

Dan aku tidak selalu sadar kapan mereka mulai menghilang.

Aku tidak selalu kasar.

Aku tidak selalu jahat.

Tapi ternyata ada luka yang tidak membutuhkan niat jahat untuk lahir.

Cukup dengan tidak mengerti kapan harus berhenti.

Cukup dengan menjadikan cinta sebagai tempat pelarian dari ketakutan sendiri.

Cukup dengan memeluk seseorang terlalu erat, sampai napasnya sendiri tidak lagi terdengar sebagai haknya.

Sekarang, yang tersisa bukan lagi cerita.

Melainkan gema dari keputusan-keputusan yang tidak bisa ditarik kembali.

Jika ada yang pernah aku lukai,

jika ada yang pernah merasa dirinya mengecil di dekatku,

jika ada yang pernah kehilangan dirinya sendiri hanya untuk bertahan di sisiku…

aku minta maaf.

Bukan karena aku ingin dimaafkan.

Tapi karena akhirnya aku mengerti bahwa penyesalan tidak selalu datang untuk menyelamatkan, kadang hanya datang untuk membuat kita jujur.

Aku tidak bisa kembali ke versi diriku yang dulu.

Dan mungkin itu memang tidak perlu.

Yang perlu aku lakukan sekarang hanyalah tidak mengulang cara yang sama dalam mencintai.

Manipulasi dan Kebohongan dalam Cinta

Ada cinta yang tidak terlihat sebagai kekerasan, tetapi bekerja seperti itu—perlahan, halus, dan justru terasa masuk akal ketika sedang dialami.

Banyak orang mengira manipulasi dan kebohongan adalah hal yang sama. Padahal keduanya hanya sama dalam satu hal: sama-sama bisa merusak manusia dari dalam hubungan.

Kebohongan adalah ketika kenyataan diganti, lalu seseorang diminta hidup di dalam versi yang tidak benar.

Di sana, kepercayaan dihancurkan secara langsung.

Manipulasi tidak selalu butuh kebohongan.

Ia bisa hidup dalam kalimat yang terdengar benar, bahkan terdengar cinta.

Ia bekerja lewat rasa bersalah yang dibuat masuk akal.

Lewat ketakutan yang dibungkus perhatian.

Lewat harapan yang diam-diam berubah menjadi tuntutan.

Ia membuat seseorang menyerahkan dirinya, sambil tetap merasa bahwa ia sedang memilih untuk melakukannya.

Kebohongan mengubah fakta.

Manipulasi mengubah cara seseorang memahami dirinya sendiri.

Misalnya ketika cinta dijadikan syarat:

“Kalau kamu benar-benar mencintaiku, kamu pasti akan menuruti ini.”

Kalimat itu tidak terdengar seperti ancaman.

Tapi perlahan, ia menggeser pusat kendali seseorang—dari dirinya sendiri, menjadi rasa takut kehilangan orang lain.

Di titik itu, cinta tidak lagi menjadi ruang.

Ia menjadi ukuran.

Dan ketika cinta berubah menjadi ukuran, manusia mulai mengecil untuk bisa memenuhi syaratnya.

Hubungan yang dipenuhi kebohongan kehilangan kepercayaan.

Namun hubungan yang dipenuhi manipulasi kehilangan sesuatu yang lebih sunyi dan lebih berbahaya: kemampuan seseorang untuk mengenali dirinya sendiri.

Lalu seseorang tidak lagi bertanya, “Apa yang aku inginkan?”

Ia hanya bertanya, “Apa yang harus aku lakukan agar aku tidak ditinggalkan?”

Dan pada saat itu, cinta tidak lagi berdiri di antara dua orang.

Ia berdiri di atas ketakutan.

Pada akhirnya, cinta tidak pernah layak diukur dari seberapa kuat ia mengikat.

Tapi dari seberapa utuh seseorang bisa tetap menjadi dirinya di dalamnya.

Sebab cinta yang dewasa tidak memperkecil.

Ia tidak menekan.

Ia tidak mengambil alih.

Ia membiarkan manusia tetap menjadi manusia.

Dan mungkin, itu satu-satunya bentuk cinta yang tidak meninggalkan luka setelah ia pergi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel suarapanturanews.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kadis Perkimtan Deli Serdang Dampingi Dirjen PKP Survei Lahan, Siapkan Realisasi Program 3 Juta Rumah
Pastikan Situasi Kondusif, Den Turangga Ditpolsatwa Gelar Patroli Berkuda di Car Free Day Margonda
Keterikatan dan cinta adalah dua hal yang sering disalahartikan. Padahal keduanya berbeda
Kehidupan :Saat Berhenti Memaksa Justru Membuat Hidup Mengalir
Benarkah LGBT Menjadi Instrumen Kontrol Populasi? Membaca Data di Balik Narasi Global
Pembagian Masker Kepada warga Masyarakat Dampak oleh Peristiwa Kebakaran Yang Terjadi di TPA Jatiwaringin
Penyebab Kebakaran TPA Jatiwaringin Kabupaten Tangerang, Ijum Setiawan Desak Polisi Usut Tuntas
Momentum Hari Bhayangkara ke-80:PAC GRIB Jaya Kecamatan Cikupa Berikan Dukungan Penuh Kepada Sinergi Polri
Berita ini 11 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 5 Juli 2026 - 10:49

Goresan Kisahku

Minggu, 5 Juli 2026 - 10:26

Kadis Perkimtan Deli Serdang Dampingi Dirjen PKP Survei Lahan, Siapkan Realisasi Program 3 Juta Rumah

Minggu, 5 Juli 2026 - 09:31

Pastikan Situasi Kondusif, Den Turangga Ditpolsatwa Gelar Patroli Berkuda di Car Free Day Margonda

Kamis, 2 Juli 2026 - 15:15

Keterikatan dan cinta adalah dua hal yang sering disalahartikan. Padahal keduanya berbeda

Kamis, 2 Juli 2026 - 15:12

Kehidupan :Saat Berhenti Memaksa Justru Membuat Hidup Mengalir

Berita Terbaru

Berita

Goresan Kisahku

Minggu, 5 Jul 2026 - 10:49

error: Hak Cipta Suarapanturanews.com