Hati-Hati, Penyakit Pernapasan yang Mulai Menyerang

- Jurnalis

Jumat, 25 September 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Suarapanturanews.com — September biasanya menjadi bulan ketika orang mulai menunggu hujan. Langit yang berhari-hari cerah diharapkan segera berubah mendung, udara panas mulai berganti lebih sejuk, dan tanah yang kering menanti kembali basah. Namun, September 2026 justru membawa cerita yang berbeda. Di sejumlah wilayah Indonesia, kemarau masih bertahan, sementara udara kering, asap kebakaran hutan dan lahan, serta meningkatnya deteksi influenza membuat persoalan kesehatan ikut mengemuka.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat kondisi kemarau masih mendominasi sebagian besar wilayah Indonesia. Pada awal September, sekitar 81 persen Zona Musim telah memasuki musim kemarau. Sejumlah wilayah bahkan mengalami Hari Tanpa Hujan lebih dari 60 hari berturut-turut. Kondisi tersebut berlangsung ketika El Niño berada pada kategori sangat kuat.

Kabar tentang hujan pun belum sepenuhnya melegakan. Dalam pemutakhiran 22 September, BMKG memprediksi awal musim hujan 2026/2027 akan mundur dari kondisi normal pada 529 Zona Musim atau sekitar 61,08 persen wilayah Indonesia. BMKG juga mencatat kombinasi El Niño sangat kuat dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif berpotensi memperpanjang periode kering di sejumlah wilayah.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Artinya, kalender boleh sudah mendekati penghujung September, tetapi sebagian wilayah Indonesia masih harus berhadapan dengan kemarau yang belum benar-benar selesai.

Di tengah kondisi tersebut, persoalan lain ikut muncul dari udara. Atmosfer yang kering membuat lahan lebih mudah terbakar dan kebakaran hutan serta lahan berpotensi menghasilkan asap yang menyebar ke wilayah sekitarnya. Pemantauan BMKG pada 7–16 September mencatat ribuan titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi. Kalimantan Tengah menjadi wilayah dengan jumlah terbanyak, yakni 3.177 titik, disusul Sumatera Selatan 1.305 titik, Kalimantan Barat 1.088 titik, dan Papua Selatan 960 titik.

Di sinilah persoalan kemarau mulai bersentuhan langsung dengan kesehatan.

Udara yang dipenuhi partikulat dari asap dapat menjadi masalah tersendiri bagi saluran pernapasan. Pada saat yang hampir bersamaan, sistem surveilans kesehatan juga mencatat adanya peningkatan deteksi influenza. Dua hal ini memang terjadi dalam periode yang sama, tetapi bukan berarti keduanya otomatis memiliki hubungan sebab-akibat langsung.

Istilah ISPA, misalnya, bukan nama satu penyakit atau satu virus. ISPA merupakan istilah untuk berbagai infeksi pada saluran pernapasan. Influenza hanyalah salah satu penyebab gangguan pernapasan tersebut. Karena itu, ketika angka ISPA meningkat, angka tersebut tidak dapat langsung diterjemahkan sebagai peningkatan kasus Influenza A.

Data Kementerian Kesehatan hingga 19 September 2026 memberikan gambaran yang menarik. Positivity rate influenza pada pekan ke-36 tercatat 46 persen, meningkat dari 35 persen pada pekan sebelumnya. Dari 185 spesimen yang diperiksa, 86 terdeteksi positif influenza. Sebanyak 76 di antaranya merupakan Influenza A(H1N1)pdm09, delapan A(H3N2), dan dua Influenza B Victoria. Sekitar 42 persen kasus influenza yang terdeteksi berada pada kelompok usia 0–4 tahun.

Angka 46 persen memang terdengar besar jika dibaca sekilas. Namun, angka tersebut bukan berarti 46 persen penduduk Indonesia sedang terkena influenza. Positivity rate menunjukkan proporsi spesimen yang dinyatakan positif dari spesimen yang diperiksa dalam sistem surveilans. Kemenkes sendiri masih menempatkan aktivitas influenza nasional dalam kategori rendah.

Jadi, ada peningkatan deteksi influenza, tetapi data tersebut belum menggambarkan situasi sebagai wabah nasional yang tidak terkendali.

Justru di titik inilah angka-angka kesehatan perlu dibaca dengan hati-hati. Angka statistik tidak berdiri sendirian. Ada jumlah sampel, lokasi pemeriksaan, kelompok usia, jenis fasilitas kesehatan, serta waktu pengambilan spesimen yang ikut menentukan bagaimana angka tersebut harus dipahami.

Gambaran mengenai tekanan kesehatan akibat kondisi udara terlihat lebih jelas di daerah yang mengalami paparan asap. Di Palembang, misalnya, Dinas Kesehatan mencatat peningkatan kasus ISPA dalam beberapa pekan. Berdasarkan data per 14 September, kasus mingguan meningkat dari 3.807 kasus pada minggu keempat Agustus menjadi 4.104 kasus pada minggu pertama September dan kembali naik menjadi 4.326 kasus pada minggu kedua. Data tersebut dilaporkan terjadi ketika kabut asap akibat karhutla menyelimuti sejumlah wilayah Sumatera Selatan.

Angka tersebut tentu tidak berarti setiap kasus ISPA disebabkan oleh virus influenza. Namun, situasi itu menunjukkan bagaimana kondisi lingkungan dapat berjalan beriringan dengan meningkatnya kebutuhan pelayanan kesehatan.

Persoalannya menjadi semakin kompleks karena sumber partikulat tidak hanya berasal dari kebakaran hutan dan lahan. Kualitas udara juga dapat terpengaruh oleh debu, aktivitas pembakaran, abu vulkanik, dan berbagai sumber lainnya. Ketika beberapa faktor muncul bersamaan, masyarakat berhadapan dengan lingkungan udara yang semakin tidak ideal bagi saluran pernapasan.

Di sisi lain, pemantauan influenza terus dilakukan melalui jaringan fasilitas kesehatan dan laboratorium. Kemenkes menyebut surveilans influenza dan COVID-19 dilakukan melalui puluhan fasilitas sentinel, termasuk puskesmas, rumah sakit, serta balai karantina kesehatan. Data dari jaringan tersebut digunakan untuk melihat tren penyakit, karakteristik virus, dan perubahan pola kasus.

September 2026 ini memperlihatkan sebuah situasi yang tidak sederhana. Kemarau masih panjang di sejumlah wilayah. El Niño sangat kuat ikut memengaruhi kondisi atmosfer. Titik panas dan kabut asap menjadi perhatian, sementara surveilans kesehatan mencatat peningkatan proporsi spesimen yang positif influenza.

Keduanya tidak perlu dicampuradukkan untuk melihat bahwa tekanan terhadap kesehatan sedang berlangsung dari dua arah. Udara yang kering dan tercemar dapat menjadi persoalan lingkungan, sementara virus influenza tetap bergerak dalam populasi dan dipantau melalui sistem surveilans.

Yang menarik, cerita September bukan semata-mata tentang panas dan hujan yang belum datang. Ini juga tentang udara yang kita hirup dan data kesehatan yang perlu dibaca dengan konteks. Ketika musim hujan diprediksi datang lebih lambat pada sebagian besar wilayah Indonesia, kondisi lingkungan dan perkembangan penyakit pernapasan menjadi dua bagian dari cerita yang sama-sama perlu diperhatikan hingga penghujung 2026.

Sebab, musim memang berganti mengikuti dinamika atmosfer. Namun, dampaknya tidak selalu berhenti pada perubahan cuaca. Kadang-kadang, ia ikut hadir di udara yang kita hirup dan tercermin dalam angka-angka yang muncul dari ruang pemeriksaan kesehatan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel suarapanturanews.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Selain Air Putih, 6 Minuman Ini Bisa Jadi Pilihan untuk Menjaga Kesehatan Ginjal
Jangan Merokok di Rumah! Asap Rokok Bisa Picu Pneumonia pada Anak dan Keluarga
Korban Laka Lantas Diduga Lamban Ditangani di RS Hermina Cilegon, Ketum GWI Soroti Respons Pelayanan IGD
Musim Kemarau, Dokter Ingatkan Bahaya Dehidrasi: Jangan Tunggu Haus Baru Minum
Menakar Makna Olahraga bagi Remaja
Kenapa Suka Pusing atau Berkunang-kunang Saat Berdiri?
Gula Darah Naik Setelah Makan? Coba Aktivitas Ringan Ini Selama Beberapa Menit
Dinkes Provinsi Banten dan Dinkes Kab. Tangerang Gelar Cek Kesehatan Gratis Bersama Gubernur Banten di Kecamatan Mauk
Berita ini 7 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 25 September 2026 - 20:31 WIB

Selain Air Putih, 6 Minuman Ini Bisa Jadi Pilihan untuk Menjaga Kesehatan Ginjal

Jumat, 25 September 2026 - 20:25 WIB

Jangan Merokok di Rumah! Asap Rokok Bisa Picu Pneumonia pada Anak dan Keluarga

Jumat, 25 September 2026 - 09:36 WIB

Hati-Hati, Penyakit Pernapasan yang Mulai Menyerang

Kamis, 24 September 2026 - 08:56 WIB

Korban Laka Lantas Diduga Lamban Ditangani di RS Hermina Cilegon, Ketum GWI Soroti Respons Pelayanan IGD

Selasa, 15 September 2026 - 02:51 WIB

Musim Kemarau, Dokter Ingatkan Bahaya Dehidrasi: Jangan Tunggu Haus Baru Minum

Berita Terbaru

error: Hak Cipta Suarapanturanews.com